Tak Perlu Takut Jika Anak Anda Ingin Terjun ke Dunia Esports

0

Perkembangan pesat dunia esports kini telah banyak membuat anak-anak muda bercita-cita untuk terjun ke dalamnya dengan harapan bisa menjadi pemain profesional. Hal ini tentu sedikit banyak meghadirkan keresahan di pihak orang tua.

Sejatinya, semua orang tua tentu menginginkan anaknya mendapat pendidikan terbaik demi memperbesar peluang memiliki masa depan yang cerah.

Kondisi ini membuat segala bentuk yang dapat mengganggu proses pendidikan sang buah hati menjadi “musuh” bagi para orang tua, termasuk bermain gim.

Namun, bagaimana jika anak Anda telah mengungkapkan bahwa dirinya ingin terjun ke dunia esports dengan harapan menjadi seorang pemain profesional? Anda tidak perlu takut.

Seorang Kepala Pengembangan Esports Riot Games untuk regional Amerika Utara, Chris Hopper, memiliki sedikit saran yang dapat membuka mata orang tua dan sang anak soal peluang meraih kesuksesan di dunia esports.

Kepada Quora, Chris Hopper memberikan satu hal simpel yang dapat dikatakan oleh para orang tua kepada anak mereka yang ingin mengadu peruntungan di esports.

“Saya akan mengatakan kepada anak ‘kejarlah impianmu, tetapi jangan biarkan hal itu menutup pilihan lainnya’.”

Menjadi pemain profesional tentu akan hadir pertama kali di benak orang-orang yang ingin terjun ke dunia esports. Namun, tentu tidak semua orang bisa meraihnya, sama seperti di bidang dan cabang lainnya.

Saat ini esports telah menjadi industri besar sehingga ada banyak cara untuk berkarier dan mendapat uang tanpa harus menjadi pemain profesional.

“Di dalam sebuah liga saja, kami membutuhkan para pelatih, analis, content creator, PR specialist, hingga staf back-office, pemasaran, pengacara, agen, operator penjualan, dan lain-lain. Keragaman karier itu menunjukkan bahwa ada banyak peluang bagi orang-orang yang gagal bersaing sebagai pemain di level tertinggi,” ucap Hopper.

Meski akan mempersilahkan anak-anaknya untuk terjun ke esports, Hopper mengaku akan tetap menjadikan pendidikan sebagai hal utama sebagai persiapan terjun ke dunia kerja karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Hal terpenting adalah sang anak bisa tetap memiliki skill di bidang lain jika suatu saat ingin “banting stir” ketika merasa tidak mampu untuk menjadi pemain profesional.

“Saya pasti akan terus mendorong anak-anak untuk memastikan mereka menjaga pilihan lain tetap terbuka. Tidak ada yang harus meninggalkan perguruan tinggi untuk mencoba menjadi pemain pro, sama seperti mereka yang berhenti dari sekolah menengah untuk menjadi pebola basket atau sepak bola profesional,” tutur Hopper.

“Menjadi seorang pro gamer adalah karier tanpa prasyarat. Jika Anda cukup berbakat, tim akan selalu membuka pintu. Kuncinya adalah tetap sadar bahwa tidak ada karier profesional yang tak memiliki batas. Mempersiapkan diri untuk menjadi sukses harus tetap menjadi prioritas utama,” katanya.

Share.

About Author

Leave A Reply