FIFA Ultimate Team, Salah Satu Mesin Pengeruk Uang Utama Milik Electronic Arts

0

Bagi sebagian besar orang, bermain game merupakan sebuah hobi atau aktivitas selingan untuk melepas penat setelah seharian disibukkan dengan kegiatan utamanya. Namun bagi segelintir pemain -meski jumlahnya terbilang sangat banyak- bermain game sudah menjadi bagian utama dari kehidupannya dan berubah menjadi ambisi untuk menjadi yang terbaik.

Hal ini terjadi hampir di semua game kompetitif atau esports alias yang bisa dipertandingkan, baik secara offline mau pun online. Ambisi untuk bisa mencapai level tertentu, memiliki banyak skin, atau hal-hal yang dapat membuat dirinya unggul dari pemain lain membuat mereka tak segan untuk mengeluarkan uang, hingga dalam jumlah besar.

Fenomena ini yang ditangkap oleh para pembuat game untuk bisa terus mendatangkan pemasukkan dari para pemainnya, meski mereka juga sangat membutuhkan uang tersebut untuk mengembangkan permainan dan menghadirkan hal-hal eksklusif bagi para pemainnya. Bukan hanya sekadar untuk bisa “bertahan hidup” dengan mengandalkan hasil penjualan copy game.

Salah satu game yang berhasil menarik minat para pemainnya untuk mengeluarkan banyak uang demi mendapatkan hal-hal diinginkan di dalam game adalah FIFA. Dari tahun ke tahun, game simulasi sepak bola garapan Electronic Arts (EA) tersebut berhasil meraih pendapatan fantastis dari para pemainnya melalui mode Ultimate Team (FUT).

Dari tahun ke tahun mereka merasakan peningkatan pemasukkan dari para pemainnya yang menginginkan pemain incaran di dalam game agar tim bentukannya bisa semakin berkualitas demi bisa meraih kemenangan demi kemenangan di setiap pertandingan online.

Pada edisi FIFA 20 (FUT 20), EA berhasil meraih pemasukkan sebesar US$1,49 miliar atau nyaris menyentuk angka Rp22 triliun. Jika dibandingkan dengan kuartal yang sama pada 2019, jumlah pemasukkan tersebut mengalami peningkatan lebih dari US$100 juta setelah mereka “hanya” menerima US$1,37 miliar.

Meski “tak seberapa” dari total pendapatan EA, jumlah tersebut menunjukkan bahwa FUT merupakan salah satu mesin pengeruk uang utama milik mereka. Namun di sisi lain, banyak pihak yang menilai bahwa mode ini mirip dengan perjudian yang membuat pemain kecanduan.

Seperti yang dilaporankan oleh TheSun, salah satu pemain FIFA 20 yang tak disebutkan namanya mengaku telah menghabiskan uang sebesar 13.000 pounds atau lebih dari Rp240 juta. Ia mengaku telah kecanduan dan merasa terjebak di dalam lingkaran setan, meski awalnya hanya iseng membeli demi meningkatkan kualitas tim FUT-nya.

“Sistem FUT adalah mimpi buruk. Saya telah menghabiskan 13.000 pounds dalam tiga tahun dan ini benar-benar seperti lingkaran setan. Saya memulai dengan membelanjakan uang 8,68 pounds (sekitar Rp160.000) untuk mencoba meningkatkan kualitas tim. Lalu saya melakukannya sekali lagi, dan terus berlanjut,” ucap sang pemain.

Pada awalnya, dia selalu berpikir cukup hanya beberapa kali membuka pack card dan bakal mendapatkan pemain incarannya. Namun sistem FUT dibuat agar mendorong para pemainnya terus membeli pack card tanpa ada kepastian pemain yang menjadi incarannya bakal didapat. Hal ini yang membuat sistem ini bak sebuah perjudian.

Sebelumnya, dua pengacara Prancis, Karim Morand-Lahouazi dan Victor Zagury, sempat mengajukan gugatan kepada EA dengan mengklaim bahwa mode FUT merupakan sebuah perjudian.

“Dalam permainan ini, semua orang ingin memiliki tim impian untuk melangkah sejauh mungkin. Klien saya telah menghabiskan 600 euro (sekitar Rp9 Juta) dalam lima bulan tanpa pernah mendapatkan pemain yang bagus. Para pengembang mode permainan ini telah menciptakan sistem ilusi dan adiktif,” ungkap Zagury seperti dikutip dari SportBible.

“Semua ini adalah logika kasino yang telah dihadirkan ke rumah mereka. Saat ini, ada seorang remaja berusia 11-12 tahun, tanpa batasan apa pun, dapat memainkan mode FUT dan menghabiskan uangnya karena tidak ada sistem kontrol dari orang tua. Belgia dan Belanda sudah terlebih dahulu membahas tentang masalah ini,” tuturnya.

Kedua pengacara tersebut pun mengungkapkan bahwa saat ini di Prancis sudah ada banyak keluhan baru yang masuk dari para pemain berusia 19 hingga 42 tahun dari berbagai lapisan masyarakat yang mengeluh dengan sistem mikrotransaksi seperti ini.

Semoga hal ini dapat menjadi pelajaran bagi setiap gamer, terutama di Indonesia, untuk lebih bijak dalam membelanjakan uangnya, baik untuk game mau pun hal lain, terlebih jika tidak ada garansi bahwa apa yang Anda inginkan pasti bisa didapat.

Share.

About Author

Leave A Reply