Nostalbola Eps 11 – Rayana: Hidup di Bola Mati di Bola

0

Bagi penggiat sepak bola Italia tentu saja sudah tidak asing lagi dengan sosok yang satu ini, Rayana Djakasurya. Mantan kontributor Tabloid Bola di Italia ini merupakan salah satu wartawan yang sangat dikagumi karena tulisan dan pengetahuannya tentang sepak bola Italia.

Hanya sudah beberapa tahun ini dirinya justru bak ditelan bumi usai Tabloid Bola memilih untuk tidak mencetak edisi terbarunya. Alhasi ia pun menghentikan segala kegiatannya untuk sepak bola.

Kala menjadi bintang tamu Jebreeet Media Tv di acara Nostalbola, beliau mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan strateginya. Meski dengan nada yang bercanda, dirinya mengungkapkan memang bahwa hidup di (tabloid) Bola dan mati di Bola.

“Saya hidup di Bola Mati pun di Bola. Teknik industri hilang ini sebenarnya untuk feedback kembali, jadi begitu saya hilang pasti banyak yang bertanya “kemana itu legend?” padahal saya ada di Indonesia,” katanya.

Dalam acara tersebut Rayana Djakasurya menceritakan bagaimana dirinya bisa menjadi seornag wartawan di Italia. Menurutnya awal mula itu karena dirinya mendapatkan beasiswa untuk mengajar di Italia, tepatnya di kedubes Indonesia untuk Italia.

“Pada awalnya saya memang jadi keluarga wartawan, nah saya memang dari keluarga wartawan. Saya di Italia dapat beasiswa dan saya mengajar di Italia dan akhirnya saya menjadi Ketua Pemuda Pelajar di sana akibat saya suka menulis,” jelasnya.

Sebelum akhirnya ia bergabung ke Tabloid Bola, ternyata Rayana Djakasurya sempat membuat sebuah majalah di Italia untuk para masyarakat Indonesia di sana.

“Nah, tiba-tiba ketika saya lihat ada peluang karena Italia salah satu kiblat sepak bola di dunia. Akhirnya saya berpikir kenapa tidak saya kembangkan di sini. Sebelum ke Bola saya buat dulu sebuah majalah di Italia untuk masyaraat Indonesia di sana,” ungkapnya.

Berkah pun datang saat ada kejuaaan Piala Dunia 1990 di Italia. Langsung di tawarkan oleh pimpinan redaksi Tabloid Bola, dirinya direkrut setelah hasil tulisan di majalah buatannya mendapatkan nilai bagus di sang pimpinan redaksi.

“Akhirnya pimpinan redaksi Bola, Sumohadi Marsis datang ke kedutaan berama Lilianto Apriadi, di sana dia bertanya apakah ada wartawan di sini? nah akhirnya saya ditarik ke Bola,” tutupnya.

Share.

About Author

Leave A Reply