Siapa yang tidak kenal dengan pelatih asal Serbia yang lama tinggal di Indonesia, Dejan Antonic. Pelatih yang malang melintang di sepak bola Indonesia itu sudah beberapa kali menangani tim dari Indonesia.
Dari mulai Persib Bandung hingga sekarang di Barito Putera, dirinya selalu dipercaya untuk membawa performa tim meningkat. Terlebih keahliannya dalam mencetak pemain muda di tim membuat dirinya termasuk pelatih yang spesial.
Bahkan dirinya juga mengakui bahwa peran pemain muda untuk sepak bola sangatlah besar. Alasannya karena pemain muda merupakan penerus tongkat estafet para pemain yang sudah masuk ke usia yang tidak lagi muda.
“Yang pertama saya mau bicara bahwa dari dulu saya suka sama pemain muda. Dan saya bilang bahwa kalau kita tidak ada pemain muda, sepak bola Indonesia tidak bisa hidup, untuk itu harus ada pemain muda,” katanya kepada JebreeetMedia.
Namun Dejan Antonic juga mengakui tidak mudah untuk memainkan pemain muda. Meski dirinya sangat senang, tetapi kehati-hatian tetap ia kedepankan.
Pasalnya para suporter di Indonesia selalu menggaungkan “out” acap kali tim mendapatkan kekalahan lebih dari sekali. Untuk itu dirinya selalu mengorbitkan pemain tidak lebih dari tiga.
“Problem yang kita punya di Indonesia, kalau tim kalah beberapa kali seringkali dibilang out out out, ganti atau cari solusi yang lain. Dari mulai saya di PBR, Arema, di mana-mana saya bisa keluar 2-3 pemain muda,” jelasnya.
Jika mendengar nama pemain yang diorbitkan oleh Dejan Antonic tentunya pasti banyak yang mengenal mereka. Sebut saja Gian Zola dan Febri Hariyadi di Persib Bandung, yang berhasil diorbitkan Dejan Antonic ke dunia sepak bola profesional
“Di Persib ada Zola dan Febri, di PBR ada Kim dan Rizky Pellu. Di PSS Sleman banyak orang tidak tahu Saddam, saya kasih main di Piala Menpora dan dia main bagus sekali. Sayangnya sekarang dia cedera, semoga dia segera bisa kembali merumput,” ungkapnya.
Atas dasar itu, dirinya paham betul kenapa banyak pelatih di Indonesia tidak banyak memainkan pemain muda. Banyak dari mereka mencari aman agar bisa meraih kemenangan. Padahal jika dilatih dengan baik, para pemain muda juga bisa banyak berkontribusi untuk tim.
Belum lagi dalam menerapkan kedisiplinan, tidak hanya pelatih yang berkontribusi, tetapi juga para pemain senior. Dengan adanya peran dari pemain senior maka dapat dipastikan kalau pemain muda akan lebih cepat berkembang seperti para pemain yang diorbitkannya.
“Ada resiko besar kalau main di Indonesia, kenapa? Banyak pelatih pikir untuk selalu menang maka akan tenang, tapi kalau kalah ya out out out. Tidak mudah memainkan pemain muda, kita harus hati-hati.
“Kita harus memainkan pemain muda di jalan yang benar, satu dua tahun pasti dia akan berada di jalan yang benar. Pemain muda dan pemain senior harus bersama-sama, pemain muda hormati yang senior, yang senior memberikan contoh yang baik,” tutupnya.


