Close Menu
JebreeetmediaJebreeetmedia
    What's Hot

    Hadirkan 21 Kategori, Santini JMTV Awards 2025 Siap Digelar

    December 11, 2025

    ISFEX 2025 Platform Pertumbuhan Industri Olahraga, Terasa Lebih Besar dan Meriah

    November 8, 2025

    ISFEX 2025 Kembali Digelar, Siap Pacu Inovasi Fasilitas Olahraga Nasional

    October 24, 2025
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Sepakbola Internasional
    • Bulutangkis
    Facebook X (Twitter) Instagram
    JebreeetmediaJebreeetmedia
    • Home
    • Sepakbola Internasional
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
      • Liga Champion/Europa
      • Timnas Mancanegara
    • Sepakbola Nasional
      • Liga 1
      • Timnas
    • Bulutangkis
    • Jebreeet
      • Jebreeet Talk
      • Jebreeet Tips
    • Tranmere Rovers
    • Merchandise
    JebreeetmediaJebreeetmedia
    Home ยป Apa Beda SEA Games Era-Robby Darwis Dibanding Sekarang?
    Sepakbola Nasional

    Apa Beda SEA Games Era-Robby Darwis Dibanding Sekarang?

    Jebreeet MediaBy Jebreeet MediaApril 9, 2023No Comments4 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Timnas Indonesia terakhir kali meraih medali emas di SEA Games adalah pada tahun 1991. Saat itu nama seperti Aji Santoso, Widodo C Putro, Robby Darwis, dan lainnya masih menjadi pemain aktif.

    Tergabung di Grup B, Indonesia harus menghadapi Vietnam, Malaysia dan tuan rumah Filipina. Lalu di Grup A hanya diisi oleh tiga tim saja, Thailand, Myanmar dan Singapura.

    Sat itu Indonesia sukses melibas habis lawan yang ada di Grup B dan hanya kebobolan satu gol saja.

    Pada laga pembuka, Indonesia berhadapan dengan Malaysia, tim yang saat itu dilatih oleh Rahim Abdullah. Indonesia yang saat itu dikepalai oleh Anatoli Polosin sukses melibas Malaysia dengan skor 2-0.

    Gol Indonesia sendiri dicetak oleh Widodo C Putro pada menit ke-11 serta Rochy Putiray di menit ke-22. Memasuki pertandingan kedua, gol Robby Darwis di menit ke-35 menjadi satu-satunya gol yang terjadi saat menghadapi Vietnam.

    Serta pertandingan terakhir kala berjumpa tuan rumah, timnas Indonesia hampir saja kalah oleh tuan rumah Filipina setelah tertinggal 1-0 di babak pertama.

    Filipina yang saat itu dilatih oleh pelatih kawakan, Eckhard Krautzun, akhirnya harus kalah berkat dua gol Indonesia yang dilesakkan oleh Ferryl Raymond Hattu lewat titik putih di menit ke-67 dan gol Rochy Putiray di menit ke-87.

    Atas kemenangan itu, Indonesia pun mengumpulkan sembilan poin dan berhak lolos ke babak selanjutnya bersama Filipina yang mengumpulkan tiga poin pada saat itu.

    PERTANDINGAN SEMI-FINAL

    Memasuki babak knock-out, Indonesia harus bertemu dengan runner-up grup A saat itu, Singapura. Pertandingan yang cukup dramatis itu harus berakhir lewat adu penalti, pasalnya Indonesia dan Singapura bermain imbang tanpa gol di babak normal dan extra time.

    Beruntung eksekutor dari Indonesia tidak ada yang meleset sehingga membuat Indonesia memenangkan pertandingan dengan skor 4-2. Berkat kemenangan itu Indonesia pun lolos ke babak final.

    Di laga terakhir, Indonesia bertemu dengan musuh bebuyutannya, Thailand yang berhasil mengalahkan Filipina dengan skor fantastis 6-2.

    DRAMA ADU PENALTI DI PARTAI FINAL

    Pada laga puncak lagi-lagi Indonesia harus bertanding hingga babak penalti. Kedua tim nyatanya bermain sama kuat tanpa gol hingga babak extra time. Di sinilah drama terjadi.

    Indonesia sempat tertinggal 2-3 setelah tendangan dari Maman Suryaman gagal menjadi gol. Keajaiban terjadi saat penendang keempat Thailand, Kunsut gagal mencetak gol sehingga skor pun sama kuat 3-3.

    Indonesia sempat melemas setelah sepakan Widodo C Putro tak menjadi gol. Namun, keberuntungan berpihak ke Indonesia karena penendang Thailand setelahnya, Sayomchai juga gagal mencetak gol.

    Memasuki penendang keenam, Sudirman yang menjadi algojo berhasil mencetak gol untuk Indonesia. Nah, di sinilah momen Indonesia berhasil meraih medali emas SEA Games 1991.

    Penendang keenam Thailand, Pairote Puangchan gagal mencetak gol yang membuat Indonesia menang dengan skor 4-3. Momen tersebutlah yang akhirnya menjadi kenangan indah untuk Indonesia.

    Bahkan setelah 32 tahun lamanya, Indonesia belum lagi meraih medali emas sejak saat itu. Kesuksesan Indonesia tentu saja tak lepas dari tangan dingin trio pelatih Anatoli Polosin, Vladimir Urin, dan Danurwindo.

    Ketiganya melebur menjadi satu dan menjadi kekuatan utuh Indonesia di masa tersebut.

    SEA GAMES 1991 BELUM SEPERTI SEKARANG

    Pada ajang SEA Games 1991, format timnya masih berbeda dengan sekarang. Di masa itu, tim yang bertanding masih timnas senior.

    Berbeda dengan yang sekarang, timnas yang bertanding diharuskan berusia di bawah 22 tahun. Meski begitu, pada SEA Games 1991, Anatoli Polosin turut menyertakan pemain di bawah 22 tahun.

    Sebut saja Aji Santoso, Widodo Cahyono Putro, dan Rochi Putiray yang pada saat itu masih berusia di bawah 22 tahun.

    Peraturan sendiri berubah saat memasuki SEA Games 2001 Malaysia. Saat itu tim yang bertanding bukan lagi senior, melainkan timnas U-23. Pada saat itu setiap tim boleh mengikutsertakan pemain melebihi 23 tahun, tetapi hanya tiga pemain.

    Peraturan tersebut bertahan sampai SEA Games 2015 Singapura. Barulah di SEA Games berikutnya para tim wajib menyertakan para pemainnya berusia 22 tahun ke bawah seperti sata ini.

    Lalu memasuki SEA Games 2019 Singapura, peraturan kembali berubah, setiap tim boleh menyertakan dua pemain yang melebihi 22 tahun.

    SKUAT TIMNAS INDONESIA DI SEA GAMES 1991 FILIPINA

    Demikianlah skuad Timnas Indonesia 1991 yang bisa diketahui. Semoga bermanfaat:

    Kiper: Edy Harto, Erick Ibrahim

    Bek: Ferryl Raymond Hattu, Robby Darwis, Herrie Setyawan, Heriansyah, Sudirman, Toyo Haryono, Aji Santoso, Salahudin

    Gelandang: Maman Suryaman, Widodo C Putro, Hanafing, Kashartadi, Yusuf Ekodono

    Penyerang: Peri Sandria, Rochy Putiray, Bambang Nurdiansyah

    Aji Santoso Robby Darwis SEA Games 1991 Widodo C Putro
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

    Related Posts

    ISFEX 2025 Platform Pertumbuhan Industri Olahraga, Terasa Lebih Besar dan Meriah

    November 8, 2025

    Kata Timo Scheunemann Setelah Timnas Putri U-16 Indonesia Kalah dari Australia

    August 28, 2025

    China Taipei Menjadi Lawan Timnas Indonesia Menggantikan Kuwait di FIFA Matchday September

    August 27, 2025

    Profil Dua Pemain Baru Persib Bandung yang Punya Pengalaman Gak Kaleng-kaleng

    August 27, 2025
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Editors Picks

    ISFEX 2025 Platform Pertumbuhan Industri Olahraga, Terasa Lebih Besar dan Meriah

    November 8, 2025

    Kata Timo Scheunemann Setelah Timnas Putri U-16 Indonesia Kalah dari Australia

    August 28, 2025

    China Taipei Menjadi Lawan Timnas Indonesia Menggantikan Kuwait di FIFA Matchday September

    August 27, 2025

    Profil Dua Pemain Baru Persib Bandung yang Punya Pengalaman Gak Kaleng-kaleng

    August 27, 2025

    Hadirkan 21 Kategori, Santini JMTV Awards 2025 Siap Digelar

    December 11, 2025

    ISFEX 2025 Platform Pertumbuhan Industri Olahraga, Terasa Lebih Besar dan Meriah

    November 8, 2025

    ISFEX 2025 Kembali Digelar, Siap Pacu Inovasi Fasilitas Olahraga Nasional

    October 24, 2025

    Duo Visioner di Balik Ladies On Court, Alvina Taslim dan Christine Ananta

    September 9, 2025
    Jebreeetmedia
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
    • Home
    • Sepakbola Internasional
    • Bulutangkis
    • Jebreeet
    © 2026 Jebreeetmedia. Maintained by kreasiMAYA. Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.