Dinamika Aturan Lama yang Menghambat Pemain
Selama bertahun-tahun, regulasi FIFA mengenai alih status pemain menjadi salah satu hambatan besar bagi pesepakbola yang ingin membela negara leluhur mereka. Aturan lama menetapkan bahwa seorang pemain yang telah tampil dalam pertandingan kompetitif di level internasional—baik di level senior maupun kelompok usia—untuk satu asosiasi sepak bola, tidak bisa membela negara lain.
Kasus Munir El Haddadi menjadi contoh nyata dampak aturan lama ini. Penyerang Sevilla tersebut sempat membela Spanyol dalam kualifikasi Euro 2016 saat masih berusia 19 tahun. Namun, ketika ia ingin berganti membela Maroko—negara asal orang tuanya—FIFA menolak permintaannya. Munir bahkan membawa kasusnya ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) pada 2018, tetapi tetap gagal mendapatkan izin bermain untuk Maroko.
Perubahan Regulasi dan Peluang bagi Pemain Keturunan
Pada Kongres FIFA ke-70 pada 18 September 2020, aturan alih status pemain resmi diamandemen. FIFA kini mengizinkan pemain untuk berpindah asosiasi jika mereka:
- Bermain tidak lebih dari tiga kali untuk timnas pertama mereka dalam kompetisi resmi, termasuk pertandingan kualifikasi.
- Berusia di bawah 21 tahun saat pertandingan terakhirnya untuk tim nasional asal.
- Tidak pernah berpartisipasi dalam turnamen besar seperti Piala Dunia atau kejuaraan konfederasi.
- Sudah melewati tiga tahun sejak terakhir kali membela tim nasional awalnya.
Perubahan ini akhirnya memberikan jalan bagi Munir El Haddadi untuk bergabung dengan tim nasional Maroko, mengingat ia hanya memiliki satu penampilan untuk Spanyol dan masih berusia 19 tahun saat itu.


