Jika berkaca pada tren penampilan kedua tim belakangan ini, wajar rasanya jika Aston Villa bisa menang 2-0 kala menjamu Tottenham Hotspur, Sabtu (17/5). Dua gol kemenangan Villa dicetak Ezri Konsa (menit 59’) dan Boubacar Kamara (73’).
Hal itu sejalan dengan performa timpang kedua pelatih. Di satu sisi, skuat Villa asuhan Unai Emery, memang tengah bersaing memperebutkan satu slot ke Liga Champions musim depan.
Dari tiga jatah tersisa (di luar milik Liverpool dan Arsenal selaku peringkat satu dan dua), diperebutkan oleh empat tim, yakni Villa, Newcastle, Chelsea, dan Manchester City.
Itu pula mengapa Emery dan pasukannya tampil begitu menggebu-gebu melawan Spurs. Hal itu tercermin dari data statistik laga.
Menurut Flashscore, Villa tak hanya lebih mendominasi laga lewat keunggulan persentase penguasaan bola (69% berbanding 41%), tapi juga unggul dalam hal peluang.
Pasalnya, tuan rumah sampai bisa melepaskan 18 tembakan dengan tujuh di antaranya on-target. Bandingkan dengan tim tamu yang cuma mampu melepaskan tiga tembakan dan cuma satu yang on-target.
Selain menjaga peluang lolos ke Liga Champions musim depan, kemenangan ini juga menjadi milestone sendiri bagi Emery.
Dilansir Opta, ini merupakan laga ke-100 pelatih berdarah Spanyol itu bertugas di Villa. Dari total 100 laga itu, ia sudah menghadirkan 54 kemenangan.
Nah, torehan 54 kemenangan itu mengantarkan Emery sebagai pelatih Villa dengan jumlah kemenangan terbanyak di 100 laga pertama bertugas.
Yang lebih kerennya lagi, Villa kini makin jago kandang. Sudah 21 laga terakhir di Villa Park mereka lalui tanpa pernah sekalipun terkalahkan.
Periode tersebut sekaligus menjadi periode tak terkalakan terpanjang Villa di kandang sendiri dalam kurun 48 tahun terakhir.
*Kekalahan terbanyak
Sebaliknya, performa Ange Postecoglu selaku pelatih Spurs makin dipertanyakan. Apalagi, kekalahan dari Villa merupakan kekalahan ke-25 skuat The Lilywhites di semua ajang musim ini.
Menurut Squawka, jumlah 25 kekalahan tersebut sudah menjadi jumlah kekalahan terbanyak yang pernah diderita Spurs dalam satu musim. Kini, mereka menyamai performa buruk serupa kala menelan 25 kekalahan pula di musim 1991/92.
Rapuhnya lini belakang jadi salah satu penyebab utama. Pasalnya, sudah di 12 laga terakhir Spurs tak pernah sekalipun mampu menorehkan clean-sheet alias yang terburuk sejak 2010.
Secara keseluruhan, Spurs di musim ini hanya beruntung karena sudah ada kepastian tiga tim lain yang sudah lebih dulu terdegradasi, yakni Ipswich, Leicester, dan Southampton.
Pasalnya, di papan klasemen saat ini, posisi Son Heung Min dkk. cuma lebih bagus dibanding ketiga tim degradasi tersebut.
===
View this post on Instagram


