Musim Super League 2025/26 dijadwalkan bergulir mulai 8 Agustus mendatang. Menariknya, tren yang mencuat adalah dominasi pelatih asing di hampir seluruh klub, sementara pelatih lokal nyaris tak mendapatkan tempat.
Rahmad Darmawan, sosok yang pernah memimpin Timnas Indonesia dan sejumlah klub besar di tanah air, turut menanggapi fenomena ini.
Mantan pelatih Persija Jakarta dan Persipura Jayapura menyampaikan pendapatnya, dengan menyoroti bahwa secara kapasitas ilmu, pelatih dalam negeri tidak kalah dengan pelatih mancanegara.
“Kalau kita bicara tentang kepelatihan, sebenarnya kalau ilmu kepelatihan dan beberapa kursus yang diikuti oleh pelatih-pelatih Indonesia itu nggak jauh beda. Karena materi kursus yang diberikan di pro license itu di seluruh dunia sama,” kata Rahmad Darmawan.
Kemiripan Kurikulum
Ia menambahkan, sistem pelatihan dari lembaga-lembaga besar dunia memiliki kemiripan kurikulum, hanya saja pengalaman menangani kompetisi yang lebih ketat jadi nilai tambah bagi pelatih luar.
BACA JUGA: Kevin Diks Mulai Sembuh dari Cedera, Tampil 45 Menit Dengan Borussia Monchengladbach
“AFC punya, FIFA punya UEFA punya, programnya nggak jauh beda karena memang berasal dari satu sumber yang sama. Mungkin yang membedakan adalah bahwa banyak pelatih-pelatih yang dari luar berkesempatan menjadi seorang pelatih dengan meng-handle tim-tim yang nota bene kualitas kompetisinya di atas kualitas kompetisi di negara kita,” imbuhnya.
Tak Ada Garansi
Namun, lanjutnya, tak ada garansi keberhasilan bagi pelatih asing saat turun langsung di Liga Indonesia.
“Jadi mereka juga bisa meng-handle pemain-pemain yang sudah terbiasa bermain di level yang secara hitung-hitungan intensitas kerja mereka, intensitas permainan, dan segala hal yang berkaitan dengan tim itu mereka punya kesempatan lebih.”
“Tapi bukan berarti mereka bisa sukses ketika meng-handle tim yang ada di Indonesia dengan cara bermain yang berbeda. Intensitasnya tak seperti apa yang mereka tangani selama ini. Jadi sebetulnya kesempatan itu bisa saja datang dan pergi,” ujar juru taktik asal Lampung.
Tak Kehilangan Motivasi
Rahmad juga menegaskan bahwa situasi ini tak membuatnya kehilangan motivasi. Ia tetap menjaga optimisme sebagai pelatih lokal yang siap bersaing jika peluang datang.
“Tapi sebagai seorang pelatih lokal, saya selalu memacu diri sendiri untuk oke mungkin hari ini kamu belum mendapatkan satu kesempatan seperti apa yang pernah kamu dapatkan sebelumnya,” tukasnya.
“Tapi kalau momen itu ada, pasti kita pegang dan kita yakin kita bisa bersaing. Karena kita juga ingat ada banyak situasi yang mengubah sekarang sepak bola kita. Mungkin dengan industriliasi sepak bola. Kemudian sekarang banyak sekali media sosial yang bisa mempengaruhi, yang bisa membangun image.”
“Nggak cuma para yang di level grassroot, tapi owner klub bisa terpengaruh juga ya. Mungkin dari hal yang berkaitan dengan apa yang tadi saya sampaikan sehingga kemudian mereka mencoba untuk melakukan revolusi. Saya bilang revolusi karena sekarang hampir tak ada pelatih lokal di Liga 1. Artinya hampir semua pelatih asing,” pungkasnya.
View this post on Instagram


