Setelah tersingkir dari Liga Europa, Manchester United memelihara peluang meraih trofi kedua musim ini setelah mengalahkan Brighton Hove and Albion di semifinal pada Minggu (23/4). Padahal, United sedang krisis bek tengah.
Cedera Harry Maguire menipiskan stok bek tengah Red Devils. Di sisi lain, sang kapten disorot karena kesalahannya berujung pada gol pembuka dari tiga gol Sevilla di kandangnya yang menghentikan laju Iblis Merah di Liga Europa.
United sudah lebih dulu kehilangan duet terbaik mereka di jantung pertahanan, Raphael Varane dan Lisandro Martinez. Dua bek tengah itu mengalami cedera di leg pertama perempat final Liga Europa kontra Sevilla di Old Trafford.
Alhasil, Victor Lindelof menjadi satu-satunya bek tengah murni yang tersedia buat duel empat besar di Wembley ini. Erik ten Hag terpaksa menurunkan Luke Shaw menemani Lindelof di sentral pertahanan United menghadapi Brighton.
Di luar krisis bek tengah, Ten Hag menurunkan sejumlah besar andalannya musim ini. Keletihan sangat mungkin dialami United. Semifinal di Wembley ini digelar hanya tiga hari setelah lawatan Red Devils ke Ramon Sanchez Pizjuan.
Brighton tampak memanfaatkan kelebihan kebugaran fisik mereka untuk menguasai permainan. Hingga babak pertama berakhir, pasukan besutan De Zerbi ini menorehkan penguasaan bola sebesar 63% alias hampir dua kali lipat yang dihasilkan Iblis Merah.
Penguasaan bola dominan itu bertahan hingga waktu normal berakhir. Dominasi The Seagulls itu tetap terlihat sampai 120 menit melalui perpanjangan waktu.
Meski kalah pengusaan bola, United tampil sedikit lebih efektif. Mereka bisa menghasilkan enam tembakan ke gawang, sebuah lebih banyak daripada Brighton. Adu ketangguhan pertahanan pada akhirnya menjadi warna utama laga ini.
Tidak ada gol sampai 120 menit permainan. Hasil akhir mesti ditentukan lewat adu penalti. Keketatan berlanjut. Lima penendang pertama masing-masing tim bisa menjalankan kewajibannya. Eksekusi algojo keenam, Adam Webster dan Wout Weghorst, juga berhasil.
Eksekusi pengambil penalti ketujuh Brighton, Solly March, melebar. Lindelof, yang tampil mantap di sentral belakang United, menjadi pahlawan keberhasilan United melangkah ke final.
Brighton kalah secara terhormat. Pelatih BHA, De Zerbi, mengutarakan niatnya berbicara dengan petinggi klub mengenai penguatan pada musim panas. “Kami harus menjadi lebih kuat untuk bersaing dalam standar tinggi seperti ini,” katanya dikutip Daily Mail.
De Zerbi juga menolak menuding March sebagai penyebab kegagalan Brighton. “Saya pernah menjadi pemain dan sering gagal saat penalti. Bukan masalah. Kami tampil di Wembley karena performanya. Ia salah satu pemain terbaik di lapangan tadi. Saya bangga terhadapnya, terutama hari ini,” lanjutnya.
Laga puncak ajang trofi tertua ini pada 3 Juni mendatang akan menampilkan derbi Manchester. Sehari sebelumnya di stadion keramat yang sama, Manchester City terlalu tangguh buat klub Championship Division, Sheffield United. Meski The Blades memberikan perlawanan setidaknya hampir selama babak pertama.
Riyad Mahrez menjadi bintang kemenangan Cityzens. Pemain Aljazair itu membuka hasil dominasi City dari titik penalti dua menit sebelum jeda antarbabak. Mahrez menambah dua gol dalam lima menit sampai menit ke-66 untuk memastikan hattrick.
Pep Guardiola mengutarakan kegembiraannya mengingat City selalu kandas di semifinal pada tiga kesempatan beruntun sebelumnya, masing-masing di tangan Arsenal, Chelsea, dan Liverpool. Mundur setahun, City menjadi juara setelah menggebuk Watford dengan selusin gol tanpa balas.
“Kali ini kami berhasil lolos. Laga ini setelah kembali dari Bayern. Mereka bisa tampil sangat baik termasuk yang dicadangkan di Bayern,” ucap Guardiola dikutip Reuters.
Cityzens masih berkesempatan mengukir treble. Pelatih asal Spanyol itu memberikan respons bergurau saat ditanya apakah para fan United perlu khawatir City bisa menyamai prestasi United.
“Mereka enggak perlu cemas. Kita kan bertetangga. Tetangga selalu berbaik hati satu sama lain,” ujarnya. Ramah-tamah jelas bukan atmosfer di final nanti, apalagi pertaruhannya adalah trofi dan gengsi.
Namun, United tampak lebih berkobar-kobar. “Saya memahami perasaan para fan Manchester United mengenai laga final nanti. Kami akan melakukan segalanya untuk memberikan trofi kedua. Kami membuktikan dapat mengalahkan mereka. Kami perlu mengulangi laga sempurna itu,” ucap Ten Hag.


