Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, mengakui bahwa kegagalan menjuarai Premier League musim lalu masih cukup membekas di hatinya. Meski begitu, ia tetap bangga karena dianggap berhasil membuat Arsenal kembali diperhitungkan.
Bohong jika Arteta tidak kecewa. Harapan besar menjuarai Premier League lantaran tim asuhannya sempat lama memuncaki klasemen Premier League musim lalu justru berakhir tragis.
Periode buruk di mana mereka cuma bisa meraih tiga kemenangan dari sembilan laga pamungkas ibarat mengubur mimpi.
The Gunners disalip Manchester City di pekan-pekan terakhir dan harus rela finis lima poin di bawah The Citizens yang akhirnya keluar sebagai juara.
Penantian panjang selama 19 tahun sejak terakhir kali juara Premier League 2004 pun berlanjut.
Namun, Arteta tetap mendapat kredit tinggi dari berbagai kalangan dan hal itulah yang membuatnya bisa berdamai dengan mimpi buruk, seperti yang ia tuangkan dalam wawancara terkini dengan Marca awal pekan ini.
“Jujur, sampai hari ini, kegagalan itu masih menyakiti saya. Berat rasanya gagal menjuarai Premier League setelah menghabiskan 10 bulan bersaing dengan City,” ujar Arteta.
“Namun, itulah olah raga. Banyak yang bilang bahwa apa yang kami raih dengan tim muda ini sebenarnya merupakan sesuatu yang tak ternilai. Itu jelas bagi saya,” sambungnya.
Ia juga berefleksi ke belakang, terutama bagaimana proses peralihan dirinya dari berstatus asisten Pep Guardiola di City hingga kini bisa bersaing langsung dengan sang mentor.
“Tiga tahun lalu, saya masíh asisten Pep dan kami menghadapi Arsenal yang seperti kehilangan rohnya. Kini, saya di sisi yang berbeda dan saya puas. Arsenal kembali ke identitas aslinya. Kami solid sebagai satu kesatuan dan punya banyak enerji. Itulah hal terbesarnya. Kami bangkit dari bawah,” ujar Arteta.
Belakangan sempat muncul rumor bahwa dirinya dihubung-hubungkan dengan Paris Saint-Germain. Namun, isu tersebut langsung ditepis Arteta.
“Saya katakan bahwa saya bahagia di Arsenal. Saya merasa dicintai seluruh orang di klub ini dan juga dihargai oleh pemilik klub. Saya sungguh bahagia di Arsenal dan masíh banyak yang harus saya lakukan untuk tim ini,” ujarnya.
*Soal Havertz dan pembelian pemain baru
Fokus Arteta kini adalah menyusun ulang kekuatan timnya agar lebih siap bersaing musim depan, termasuk soal pembelian pemain baru.
Ia menolak berkomentar lebih jauh soal pendekatan yang dilakukan kepada gelandang West Ham, Declan Rice, dan lebih memilih berkomentar soal Kai Havertz yang sudah resmi menjadi bagian Arsenal.
“Saya tak ingin berbicara soal pemain klub lain. Khusus soal Havertz, ia sudah menunjukkan potensinya, termasuk menjuarai Liga Champions bersama Chelsea. Ia pemain bertalenta dan sudah menjadi andalan tim meski usianya baru 24 tahun,” ujar Arteta.
Menurutnya, pembelian Havertz sudah sejalan dengan kebiasaan Arsenal dalam mengembangkan potensi pemain-pemain muda.
Pelatih berusia 41 tahun itu meyakini bahwa kehadiran Havertz bakal memperkuat lini serang Arsenal yang kini sudah dihuni banyak pemain bagus, khususnya Bukayo Saka.
“Saka juga merupakan pemain yang sangat bagus dan sangat konsisten. Di usia yang baru menginjak 21 tahun, penampilannya luar biasa. Ia juga sangat lapar gelar dan ingin terus berkembang. Kehadiran Havertz akan sangat menunjang hal tersebut,” lanjut Arteta.
Selain soal komposisi tim, kepada Marca, Arteta juga mengungkapkan bahwa persaingan ketat Arsenal-City tak berpengaruh pada hubungan pribadinya dengan Guardiola.
“Hubungan kami tetap baik. Tiga hari lalu, saya bahkan baru saja ngobrol-ngobrol dengannya. Sebagai pelatih, kami memang sangat fokus dan kompetitif. Namun, kami yakin hal itu tak akan mengganggu relasi kami. Kami tetap saling berkabar dan itu tak akan pernah berubah,” tutup Arteta.


