Di Istora Senayan, Anders Antonsen identik dengan gaya selebrasinya yang kerap menghibur. Ia merupakan salah satu pemain favorit badminton lovers. Mereka menjulukinya Istora Boy.
Namun, tak ada selebrasi unik yang dilakukan Antonsen begitu memenangi laga final Indonesia Open 2025 versus Chou Tien Chen, Minggu (8/6). Rival beratnya asal Taipei itu ia taklukkan dua gim langsung, 22-20, 21-14.
“Hari ini benar-benar murni menguras emosional. Saya bahkan sampai tak terfikir soal selebrasi apa yang bakal saya lakukan,” ujar Antonsen.
“Kadang, ada bagusnya juga untuk tidak mudah ditebak. Biar orang tidak bosan dan malah jadi penasaran,” lanjutnya.
Sebagai gambaran, Antonsen pamer selebrasi kala memastikan kemenangan atas Shi Yu Qi di semifinal, Sabtu (8/6). Kalah jauh 9-21 di gim pertama, Antonsen bangkit dan menang 21-18, 21-19.
“Saya kira, laga kemarin malam (vs Shi Yu Qi) jadi laga yang lebih sempurna untuk merayakan selebrasi kemenangan,” ujar Antonsen.
Selain soal selebrasi, berikut beragam hal menarik lain dari keberhasilan Antonsen menjuarai Indonesia Open 2025:
-
Nyalip 5 poin beruntun dari 17-20 ke 22-20
Sejak kedudukan imbang di gim pertama, Antonsen terus tertinggal dari Chou. Selisihnya cukup jauh di kedudukan 10-15.
Chou bahkan sempat meraih keuntungan tiga game-point di kedudukan 20-17. Namun, di momen inilah Antonsen mengeluarkan magisnya. Ia mendulang lima poin beruntun guna menutup gim pertama dengan keunggulan 22-20.
“Saya hanya berusaha tetap fokus dan meraih poin demi poin. Kalau saja saya tak memengani gim pertama tersebut, saya kira Chou yang bakal menjadi juaranya,” ujar Antonsen.
-
Cuma kasih angin di gim kedua
Kemenangan genting di gim pertama meningkatkan kepercayaan diri Antonsen. Mentalnya tak goyah meski tertinggal 2-6 di awal-awal gim kedua. Ia seperti cuma kasih angin untuk Chou.
Buktinya, begitu mampu menyamakan kedudukan 8-8, Antonsen tak pernah lagi tertinggal dari Chou. Ia selalu unggul hingga akhirnya dengan mudah menutup gim kedua dengan skor 21-14.
-
Istora mengubah hidupnya di tahun 2019
Di level senior, Antonsen pertama kali mencicipi gelar juara BWF di Jakarta, yakni di ajang Indonesia Masters 2019. Kala itu, ia secara mengejutkan menang rubber-game dari Kento Momota (Jepang) dengan skor 21-16, 14-21, 21-16. Semenjak kemenangan bersejarah tersebut, Antonsen merasa Istora benar-benar mengubah hidupnya.
-
Revans 2019
Pada tahun yang sama (2019), Antonsen juga melangkah ke final Indonesia Open. Namun, ia kalah rubber-game dari Chou dengan skor 18-21, 26-24, 15-21. Kemenangan tahun ini sukses menjadi revans dan membayar kekecewaannya enam tahun silam dari Chou.
-
Gelar ke-3 dari 6 kali final di Istora
Secara keseluruhan, Antonsen sudah menjalani tujuh kali final di Indonesia. Kecuali final Indonesia Masters 2021 di Bali, sisa enam final lainnya berlangsung di Istora.
Dari enam kesempatan itu, Antonsen tiga kali naik podium sebagai juara, yakni di Indonesia Masters 2019, Indonesia Masters 2024, dan Indonesia Open 2025. Wajar jika Antonsen kerap menganggap Istora sebagai rumah keduanya.
-
Painkiller demi segalanya
Usai laga, Antonsen menuturkan bahwa dirinya banyak menggunakan painkiller sepanjang perjalanannya mencapai final versus Chou.
“Persaingan di sektor tunggal putra sangat berat. Tak mudah bermain lima pertandingan beruntun melawan pemain-pemain hebat. Saya memang sudah siap memberikan segalanya untuk bisa memenangi laga ini,” ujar Antonsen.
-
Masih kalah head-to-head 5-8 vs Chou
Chou memang menjadi salah satu rival terberat Antonsen. Meski menang di final tahun ini, Antonsen secara head-to-head masih kalah 5-8 dari Chou.
===
View this post on Instagram


