Salah satu perhatian pada duel panas antara Liverpool dan Man. United pada Minggu (5/3) boleh jadi mengarah kepada Cody Gakpo. Kisah seputar transfer sang penyerang berkisar di antara kedua klub pelakon Derbi Barat Laut ini.
Gakpo bersinar saat Piala Dunia 2022 akhir tahun lalu dengan koleksi tiga gol untuk Belanda di turnamen yang digelar pada akhir tahun kemarin itu. Ketiga gol tercipta ke gawang lawan-lawan De Oranje di fase grup.
Nilai Gakpo disebut naik karena sinar di Qatar 2022 itu. Sebelum kiprah di Piala Dunia, penyerang kelahiran 7 Mei 1999 ini sudah menyita perhatian dengan torehan 21 gol dari 47 penampilan berseragam PSV pada 2021/22.
Sejumlah klub konon menjadikan anak Eindhoven ini target transfer musim dingin mereka. Man. United adalah salah satu yang paling santer disebut sebagai peminat paling serius.
Tak dinyana, Gakpo akhirnya berlabuh di kubu rival berat United, Liverpool. The Reds bahkan sudah memastikan kedatangan Gakpo sebelum pergantian tahun. Nilai transfer Gakpo dikabarkan antara 40-50 juta euro, yang merupakan rekor penjualan PSV. Peran kapten Belanda, Virgil van Dijk, besar dalam keputusan Gakpo memilih Reds.
Akan tetapi, sejak debut di ronde ketiga Piala FA melawan Wolves pada 7 Januari, Gakpo enggak langsung nyetel di skuad Liverpool. Ukurannya tak lain dari gol.
Gakpo baru bisa mencetak gol buat Liverpool pada 13 Februari, yakni saat derbi Merseyside. Dari total 11 laga di semua ajang untuk Si Merah, Gakpo baru mengemas dua gol.
Pertanyaannya tak lain dari soal apakah Gakpo tidak cukup baik untuk tampil di Inggris.
Sebelum membahas mengenai kualitas teknisnya, perlu disebutkan bahwa Gakpo bisa menempati banyak posisi di depan. Ia bisa melakoni dua sayap, penyerang tengah, atau bermain di belakang striker.
Meski serbaguna, posisi terbaik Gakpo disebut ada di sayap kiri. Di posisi tersebut, Gakpo bisa menunjukkan kemampuannya menggiring dan memotong masuk sebelum melepaskan tembakan.
Kembali ke masalah gol, menjebol gawang lawan bukan satu-satunya peran Gakpo, terutama buat PSV. Menurut Total Football Analysis, Gakpo menorehkan rata-rata 0,41 gol dan 0,40 assist per 90 menit pertandingan sebelum pindah ke Anfield. Selain pencetak gol, ia berkontribusi dengan kreativitas saat menguasai atau tanpa bola.
Pemain bertinggi badan 189cm ini tampak terlalu jangkung sebagai sayap. Di sisi lain, paduan kekuatan dan kecepatan menjadikan Gakpo sebagai sayap berbahaya. Posturnya memudahkan menahan bek lawan. Kecepatan berkat kelenturan badan memungkinkan Gakpo berakselerasi melewati lawan.
Kemampuan teknis Gakpo, terutama saat menggiring bola, ditimpali pemahaman permainan yang tinggi, bisa senantiasa menghasilkan ruang bagi tim. Peluang bisa kapan pun tercipta seturut tambahan operannya yang baik.
Kekurangan dalam kontribusi defensif biasanya dialamatkan kepada penyerang. Untuk masalah ini Gakpo sebenarnya tidak terlalu buruk. Ia sering turun bertahan, termasuk saat lawan melakukan serangan balik di sisi sayapnya.
Usia Gakpo baru 23 tahun. Kesalahan masih sering ia lakukan. Sentuhan pertama masih menjadi kelemahan yang cukup sering muncul. Keputusannya saat menguasai bola pun masih belum oke.
Di Liverpool, Jurgen Klopp memainkannya sebagai penyerang kiri sesuai preferensinya. Di sana, Gakpo mendapat tugas berat. Ia mesti mengisi posisi Sadio Mane dan bersaing dengan Luis Diaz.
Tidak seperti Mane atau Diaz, Gakpo tidak menyukai bola daerah yang harus ia kejar di sayap. Gakpo lebih suka menguasai bola di dekat rekan setim. Kekurangagresifan ini masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu dibenahi Gakpo.
Meski begitu, Gakpo disebut memiliki kelebihan dibandingkan dua pemain tersebut. Meski kaki kanannya lebih kuat, kaki kiri Gakpo lebih hidup daripada Mane dan Diaz.
Duel kontra United nanti boleh jadi akan berat buat Gakpo. Para pemain Iblis Merah mungkin akan menjadikannya sasaran untuk dibuat tidak berkutik. Di sisi lain, Gakpo sangat mungkin berupaya untuk menunjukkan kepada publik Anfield bahwa pilihannya tidak salah.


