Portugal memulai kiprah mengejar gelar Euro 2024 dengan angka penuh di Grup F. Namun, Selecao das Aquinas mesti bersusah payah mencapainya saat menghadapi Ceskia di Leipzig Stadium pada Selasa (18/6) sampai butuh jasa anak muda.
Dalam laga pertama di Grup F ini, hadir beberapa hal menarik, dari manajemen bos anyar sampai tentang pahlawan kemenangan dan kapten lawas.
Awal Martinez
Bos Portugal, Roberto Martinez, mengarsiteki negara di Iberia ini untuk pertama kali di turnamen besar setelah kiprah di Belgia. Eks pelatih Wigan ini cukup bersinar setelah berhasil membawa Kevin de Bruyne cs. menempati peringkat ketiga Piala Dunia 2018. Hanya, Belgia gagal total di turnamen besar terakhir, PD 2022, mandek di fase grup.
Sebagai catatan, mantan tim asuhannya itu mengalami kekalahan sehari sebelumnya dengan serangkaian kenahasan. Martinez harus memutar otak untuk mencegah tim aktualnya mengalami hal serupa.
Penguasaan Jomplang
Berambisi meraup tripoin, Portugal menekan sejak awal laga yang dipimpin wasit dari Italia, Marco Guida, ini. Penguasaan bola Selecao mencapai 70% sampai akhir duel.
Di babak pertama, ball possession kampiun Euro 2016 ini bahkan mencapai 73%. Portugal sembilan kali membuat percobaan, dengan tiga tembakan mengarah ke gawang. Ceskia hanya bisa melepaskan sekali tembakan, tapi tidak menuju gawang. Dengan kondisi jomplang itu, skor tanpa gol mengakhiri paruh pertama.
1 Shot on Target, 1 Gol
Meski tampil defensif, Ceskia memberikan masalah. Seiring meningkatnya kepercayaan diri, skuad asuhan Ivan Hasek itu membaik di paruh kedua.
Pecahan Cekoslowakia itu bisa melepaskan empat tembakan, dengan sebuah yang mengarah ke target.
Repot buat Portugal, sebiji shot on target itu berbuah gol. Lukas Provod meneruskan operan Vladimir Coufal pada menit ke-62 menjadi gol tembakan dari luar kotak penalti.
View this post on Instagram
Reaksi Cepat Bob
Martinez segera bereaksi dengan memasukkan Diogo Jota dan Goncalo Inacio. Efek tidak langsungnya adalah gol balasan.
Portugal hanya membiarkan Ceskia unggul selama tujuh menit. Bek tengah Ceskia, Robin Hranac, apes menjaringkan bola ke gawangnya sendiri terkena bola yang ditahan kiper Jindrich Stanek dengan kakinya.
Pada menit ke-87, Jota mencetak gol dengan sundulan. Namun, setelah pemeriksaan VAR, gol pemain Liverpool itu dibatalkan karena off-side.
Pergantian Apik: Super-Sub
Pada menit ke-90, Martinez menerjunkan Pedro Neto dan Francisco Conceicao untuk menambah daya gedor. Nelson Semedo juga dimasukkan untuk menambah tekanan dari sayap.
Hasil pergantian ini hadir dua menit kemudian. Hranac kembali jadi pesakitan. Antisipasi buruknya atas umpan rendah dari sayap kiri membuat bola lepas. Conceicao segera menyelesaikan bola bebas tersebut.

Paman Ronaldo
Setelah peluit tanda akhir laga berbunyi, kapten Cristiano Ronaldo segera menyambut Chico Conceicao. Keduanya bertukar pelukan hangat laiknya paman dan keponakan. Analogi itu tak berlebihan, teristimewa untuk kiprah Ronaldo di Euro yang sudah mencapai kali keenam.
CR7 mengawali persinggungan dengan kejuaraan antarnegara Eropa ini pada 2004 di negeri sendiri. Turnamen itu menjadi yang terakhir untuk Sergio Conceicao, sayap Portugal yang dikenal memperkuat Inter Milan dan Lazio. Sekarang Ronaldo bermain dengan putra keempat Sergio, Chico. Penyerang berusia 21 tahun itu kembali klub yang pernah dibela dan kemudian dilatih sang ayah, Porto, usai bermain di Ajax.


