Dari sekian banyak nama gress yang mencuat di Euro 2024, Riccardo Calafiori merupakan salah satu di antaranya. Bagaimana tidak, Calafiori baru masuk untuk pertama kalinya ke skuat senior Italia pada 23 Mei 2024 alias kurang dari tiga pekan sebelum Euro 2024 dimulai!
Dipanggilnya Calafiori untuk persiapan ke Euro 2024 merupakan buah dari penampilan positifnya sepanjang musim lalu demi mengantar Bologna finis di peringkat lima dan berhak untuk pertama kalinya tampil di Liga Champions.
Pada 4 Juni, Calafiori meraih caps pertamanya di laga uji coba kontra Turki yang kebetulan digelar di kota asal klubnya, Bologna. Pada laga yang berkesudahan imbang 0-0 tersebut, Calafiori masuk dari bangku cadangan untuk menggantikan Federico Dimarco (menit 85’).
Dua hari berselang, nama Calafiori akhirnya tercantum di skuat final Italia untuk Euro 2024. Yang lebih mengejutkannya lagi, bek berusia 22 tahun itu langsung dipercaya tampil sebagai starter di laga pembuka grup versus Albania. Kepercayaan itu menjadikan Calafiori sebagai pemain Italia termuda kedua yang tampil di Piala Eropa setelah Paolo Maldini.
Ia meraih nilai 7,4 untuk rating penampilannya versi Whoscored. Nilai itu hanya kalah bagus dari Nicolo Barella (7,8) dan Federico Chiesa (7,8).
Tekanan makin membesar ketika ia kembali menjadi starter di laga kedua versus Spanyol, tapi malah membuat gol bunuh diri yang menghadirkan kekalahan 0-1.
Uniknya, Spalletti masih kembali mempercayakan Calafiori tampil sejak menit awal di laga penutup sekaligus laga penentuan lolos ke babak 16 besar kontra Kroasia.
Kepercayaan besar itu ia bayar lewat assist cantiknya untuk gol penyeimbang menit-menit akhir Italia yang dicetak Mattia Zaccagni. Gol Zaccagni membuat skor akhir Italia vs Kroasia menjadi imbang 1-1 dan Azzurri berhak lolos ke babak 16 besar, sedangkan Vatreni harus tersisih.
Begitu wasit meniupkan peluit akhir, Calafiori kedapatan kamera tengah meneteskan air mata sembari merebahkan badannya ke lapangan.
“Sejujurnya, saya tak tahu dapat enerji ini dari mana (prosesnya memberi assist). Benar-benar laga yang berat. Saya merasa harus mempersembahkan sesuatu untuk tim yang telah menyambut saya dengan sangat baik,” ujar Calafiori usai laga dilansir ESPN.
“Saya benar-benar gembira dan ini begitu emosional buat saya, terutama dalam beberapa hari terakhir, di mana saya tak punya banyak waktu untuk bisa melupakan gol bunuh diri lawan Spanyol karena sudah harus langsung fokus ke laga Kroasia. Saya ingin membayar kesalahan tersebut dan akhirnya sukses memberikan kontribusi positif,” tutupnya.
Di laga dramatis tersebut, Calafiori terpilih sebagai man of the match. Hanya saja, yang mengganjal mungkin satu: Calafiori terpaksa menerima kartu kuning di menit 90+3’. Hukuman itu membuatnya harus absen (akumulasi kartu) saat bersua Swiss di babak 16 besar.
Secara keseluruhan, penampilan Calafiori sejauh ini terbilang impresif. Terlepas dari gol bunuh ke gawang Spanyol dan hukuman akumulasi yang lahir kontra Kroasia, Calafiori sudah menyuguhkan penampilan positif jika berkaca pada data statistik.
Dilansir Squawka, Calafiori menempati peringkat teratas skuat Italia di daftar kreasi peluang terbanyak (4), intersep terbanyak (6) dan memenangi duel udara terbanyak (7) sepanjang fase grup. Selain itu, persentase akurasi umpannya juga mencapai 92,6%.
Meski bakal absen kontra Swiss, nama Calafiori tak lantas tenggelam dari pemberitaan media-media Eropa, terutama soal masa depannya.
Pada Jumat (28/6), jurnalis sekaligus pakar transfer asal Italia, Fabrizio Romano, membocorkan via akun media sosialnya bahwa Calafiori langsung menjadi incaran tim-tim besar. Dua di antaranya adalah Juventus dan Arsenal.
Jika Italia mampu melewati hadangan Swiss dan Calafiori bisa tampil lagi di babak berikutnya demi menuntun Italia hingga ke tangga juara, besar kemungkinan namanya bakal makin laku di pasaran.
View this post on Instagram


