Barcelona membukukan kemenangan telak atas Real Madrid. Yang membuat para penggemar Madrid miris, kekalahan 0-4 dari Barca pada Sabtu (26/10) itu terjadi di Santiago Bernabeu. Barca menyala karena banyak sinar di dalamnya saat ini.
Barca menunjukkan kelebihan pada penyelesaian akhir. Tamu dari Catalan ini dapat memanfaatkan banyak peluang yang mereka dapatkan, sementara Madrid gagal menjaringkan bola meski memiliki sejumlah kans bagus.
Di Bernabeu, dominasi Barcelona bisa diawali dari penguasaan bola sebesar 58%. Barca membuat tujuh tembakan ke gawang dari 15 percobaan, sementara Madrid hanya empat tembakan ke sasaran dari sembilan usaha.
Blaugrana bisa bernapas lega saat wasit menganulir gol cungkilan Kylian Mbappe pada menit ke-30 karena VAR mendapati sang penyerang off-side. Namun, Barca dapat memperlihatkan keunggulan secara keseluruhan dengan beberapa andalan penting pada el clasico kali ini. Siapa saja?
Keladi Lewandowski
Musim ini menjadi arena pembuktian bagi Robert Lewandowski setelah penurunan musim lalu setelah kiprah tajam bertahun-tahun. Striker gaek itu melanjutkan kesuburannya di Bernabeu.
Lewandowski membuka skor dengan tembakan dari posisi sedikit di luar kotak penalti meneruskan sodoran daerah cantik dari salah satu jangkar muda, Marc Casado. Pada menit ke-58, dua menit setelah gol pembuka, eks tombak Bayern Munchen dan Dortmund ini menyundul masuk umpan lambung Alejandro Balde dari sayap kiri ke tiang jauh gawang Andriy Lunin.
Penyerang Polandia ini berpeluang menambah gol, tapi dimentahkan tiang gawang dan sebuah masih melayang. Dua gol membuat koleksi Lewandowski jadi 14 gol, menempatkannya nyaman di puncak daftar el pichichi. Pesaing terdekatnya, Ayoze Perez, baru mengemas setengah torehan striker berusia 36 tahun itu.
Yamal Yakin
Lalu ada Lamine Yamal, produk ajaib terbaru dari La Masia. Menerima operan Raphinha pada menit ke-77, pemain berusia 17 tahun ini melepaskan tembakan ke pojok kiri atas gawang Madrid.
Gol perdana Yamal di el clasico itu praktis menghentikan perlawanan tuan rumah. Menurut Opta, sang sayap belia tampil sebagai pencetak gol termuda el clasico abad ini.
Simak kepercayaan diri bintang Spanyol di Euro 2024 lalu ini usai laga. “Kami yakin kami adalah tim terbaik di dunia. Mereka berkata bahwa kami hanya mengalahkan tim-tim biasa. Kini kami memukul Madrid 4-0 di rumahnya. Kami membuktikan bisa mengalahkan siapa saja,” ucap Yamal dikutip Reuters.
View this post on Instagram
Raphinha On Fire
Selain Lewandowski, pemain satu ini sedang panas-panasnya. Raphinha meneruskan peningkatan grafik permainannya belakangan ini.
Setelah assist buat Yamal, sayap asal Brasil ini mematri kemenangan besar buat Blaugrana pada menit ke-84. Eks Leeds ini mencungkil masuk bola operan Inigo Martinez. Hanya, berbeda dengan Mbappe di babak pertama, Raphinha on-side.
Satu assist dan satu gol ini mengikuti kiprah apiknya di Liga Champion kala menekuk Bayern Munchen dengan skor 4-1. Raphinha melepaskan tiga assist di laga itu.
Pena Mantap
Pemain Barcelona yang juga menampilkan aksi krusial dalam kemenangan ini adalah Inaki Pena. Sang kiper tercatat dua kali menangkal tembakan Mbappe untuk menjaga gawangnya tidak kebobolan sampai akhir duel.
Dengan kiprah tangguh di Bernabeu ini, Pena boleh jadi mengenyahkan sebagian besar kekhawatiran para fan. Kiper berusia 25 tahun tersebut membuktikan diri pantas menggantikan kapten Marc-Andre ter Stegen cedera sampai akhir musim. Pena boleh jadi menunjukkan pula bahwa perekrutan darurat Wojciech Szczesny sebenarnya tidak perlu.
Taktik Flick
Terakhir, pujian buat Hansi Flick. Skor besar ini tak ayal meramaikan lagi bahasan soal efek positif sang arsitek baru. Hasil ini terasa tambah spektakuler mengingat ini adalah el clasico pertama eks manajer Bayern itu.
Salah satu resep keberhasilan Flick sejauh ini di Barca adalah kemahirannya meracik pemain yang tersedia. Blaugrana tengah dilanda masalah cedera, tapi tampak tak terlalu memengaruhi aksi di lapangan. Barcelona tetap mampu setia pada permainan operan untuk unggul dalam penguasaan bola.
Selain itu, Flick berani memercayai pemain-pemain muda. Yamal, Balde (21 tahun), Casado (21), Pedri (21 tahun), Gavi (20), Fermin Lopez (21), Pablo Torre (21), bek tengah Pau Cubarsi (17), sampai Marc Bernal (17) masuk dalam deretan pemain muda yang tampil mengesankan di bawah arahannya.
Khusus di laga klasik ini, salah satu statistik menonjol adalah off-side. Perangkap off-side Barca 12 kali sukses, sementara hanya sekali terjebak off-side. Flick mengaku memelajarinya dari sepak bola Belanda, terutama legenda Barca, Johan Cruyff. “Saya tak jauh dari gagasan permainan Barca sebelumnya seperti saat sukses bersama Cruyff dan Pep Guardiola,” katanya.
Los Cules pun dapat membukukan kemenangan dengan skor serupa untuk ketiga kali di tempat yang sama, Bernabeu, dalam sembilan tahun terakhir. Flick menjadi bos Barcelona yang mengukir kemenangan el clasico pertama di Bernabeu sejak Terry Venables pada 2 September 1984 kala Barca menang 3-0.


