Tifosi Inter layak cemas. Catatan buruk tandang I Nerazzurri mengancam kelanjutan kiprah mereka di Liga Champion.
Kekalahan 1-2 dari tim papan bawah, Spezia, pada lanjutan Serie A pekan lalu memang belum menurunkan Inter dari posisi kedua. Akan tetapi, keunggulan Inter tinggal satu poin dari Lazio dan tiga poin dari AC Milan dan Roma.
Bisa ditebak bila allenatore Simone Inzaghi jadi sasaran kritik. Di Stadio Picco, kandang Spezia, saja tifosi Inter sudah mencemooh skuad Inter. Bisa dibayangkan berlipatnya keresahan para fan Nerazzurri saat Daniel Maldini mencetak gol pembuka. Padahal, anak legenda hidup AC Milan, Paolo Maldini, itu baru masuk saat jeda antarbabak.
Hasil 1-2 di Spezia itu merupakan kekalahan La Beneamata keenam di luar rumah khusus Serie A. Dua pekan sebelum Spezia, Lautaro Martinez dkk. keok di kandang Bologna.
Inzaghi menyatakan bahwa hasil tandang pasukannya meresahkan. Performa saat melawat ke Do Dragao, kandang Porto untuk leg 2 perdelapan final Liga Champion, tak ayal bakal sangat mengkhawatirkan.
“Kami tidak senang dengan hasil di luar San Siro. Tahun lalu berbeda cerita,” kata Inzaghi seperti dikutip AFP.
Kelesuan di luar San Siro musim ini berbeda dengan musim lalu. Musim silam, Inter hanya dua kali kalah plus lima seri saat tandang di Serie A. Di Liga Champion, Milan Biru hanya kalah di rumah Madrid di fase grup. Mereka menang 1-0 di Anfield, rumah Liverpool, tapi gagal melaju ke perempat final.
Di fase grup LC musim ini, Inter bisa menahan imbang Barcelona dengan skor 3-3. Hasil itu krusial dalam meloloskan Nerazzurri ke perdelapan final sebagai runner-up Grup C di bawah Bayern Munchen.
“Kami menorehkan hasil bagus saat tandang, seperti di Barcelona. Kami tahu harus menampilkan performa bagus untuk mencapai perempat final,” ujar Inzaghi.
Gol Romelu Lukaku empat menit sebelum akhir laga memberikan kemenangan 1-0 atas Porto di leg 1. Catatan tandang bisa membuat keunggulan itu tidak berarti.
Sebagai catatan, Internazionale secara konsisten tak pernah mencapai delapan besar Liga Champion sejak mengukirnya pada 2010/11 atau semusim setelah meraih treble. Sebuah kegagalan lagi akan membawa tekanan yang lebih besar buat Inzaghi. Beban akan bertambah saat Inter menghadapi rival, Juventus, pada akhir pekan nanti.
Ancaman buat Si Hitam-Biru tentu berupa Porto. Wakil Portugal itu mengincar torehan perempat final ketiga dalam lima musim terakhir. Porto sendiri kerap menjadi momok buat klub Italia. Pada 2018/19, klub berjulukan Dragoes ini menyingkirkan Roma di 16 Besar walau I Lupi unggul 2-1 di kandang.
Estadio Do Dragao juga akan menjadi kelebihan Porto. Sang Naga baru kalah tiga kali musim ini di rumahnya itu, sebuah di fase grup Liga Champion di tangan Club Brugge.
Kiprah Dragoes di San Siro pada leg 1 juga bisa membawa optimisme Dragoes. Selain gol pengujung laga Lukaku, Porto menciptakan banyak peluang melalui Marko Grujic, Mehdi Taremi, dan Zaidu Sanusi.
Inter boleh jadi berharap Porto masih terganggu masalah absensi. Gabriel Veron, Evanilson, dan Galeno berada di daftar cedera. Sanksi Otavio membuat eks sayap Inter yang kini menukangi Porto, Sergio Conceicao, pening. Namun, Inzaghi boleh jadi lebih pusing melihat performa skuadnya.


