Kedua tim sama-sama membuang peluang terbaik mereka. Hanya saja, Napoli jauh lebih gegabah di banyak peluang lain.
AC Milan berhak lolos ke semifinal Liga Champions usai menahan imbang tuan rumah Napoli di Diego Armando Maradona Stadium, Rabu (19/4). Modal kemenangan tipis 1-0 di leg pertama memastikan langkah Rossoneri ke empat besar lewat keunggulan agregat 2-1.
Awalnya, Napoli sebenarnya lebih diunggulkan ketimbang Milan. Prediksi itu mengacu pada tren impresif yang mereka perlihatkan di fase-fase terdahulu. Sebelum takluk 0-1 di San Siro, Partenopei cuma sekali kalah dari delapan laga.
Kekalahan itu mereka derita kala bertandang ke Anfield di fase grup (0-2). Selebihnya, Napoli membantai seluruh lawan-lawannya. Disebut membantai karena seluruh kemenangan itu berselisih lebih dari satu gol.
Rangers dua kali dibantai dengan skor identik 3-0. Ajax dilumat dengan skor 6-1 dan 4-2. Sedangkan Liverpool, meski menang 2-0 di Anfield, sebelumnya takluk 1-4 di Naples.
Pada babak 16 besar, giliran wakil Jerman Eintracht Frankfurt yang mereka sapu lewat dua kemenangan meyakinkan 2-0 dan 3-0.
Jadi, saat ganti menjamu Milan semalam, tak salah rasanya jika fan Napoli masih berharap tim kesayangan mereka bisa membalikkan ketertinggalan agregat 0-1 dari leg pertama.
Apalagi, pelatih Luciano Spalleti, bisa menurunkan seluruh personil terbaiknya, termasuk sang bomber Victor Osimhen, yang absen di San Siro.
Napoli langsung menggebrak demi melahirkan gol cepat. Matteo Politano mendapat dua peluang emas dan Khvicha Kvaratskhelia membuat satu peluang yang seluruhnya gagal menjadi gol hanya dalam rentang 20 menit awal.
Setelah itu, tuan rumah agak tersentak lantaran hukuman penalti. Beruntung, kiper mereka, Alex Meret, masih mampu menepis eksekusi Olivier Giroud.
Menurut Opta, Meret menjadi kiper pertama yang berhasil menepis tembakan penalti Milan di ajang Liga Champions setelah terakhir kali Jerzy Dudek (Liverpool) mengagalkan tembakan Andriy Shevchenko di laga final musim 2004/2005.
Sedangkan bagi Giroud, itu merupakan kegagalan penalti pertama sejak kegagalan serupa yang terakhir kali dibuatnya saat masih berseragam Arsenal di laga Piala Liga kontra Coventry pada September 2012.
Sekitar 20 menit kemudian, Giroud membayar kesalahannya tersebut usai meneruskan umpan matang dari akselerasi Rafael Leao. Proses gol inilah yang begitu disayangkan Meret.
Meski tertinggal 0-1 di masa jeda, ambisi besar Napoli begitu kentara dari data statistik laga. Menurut Flashscore, khusus di babak pertama, Osimhen dkk. melancarkan 50 dangerous attack, sedangkan Milan hanya mengkreasi delapan.
Kondisinya tak banyak berubah di babak kedua dengan kontrol permainan lebih dipegang Napoli. Pun demikian dengan jumlah serangan.
Spalleti bahkan sampai harus menghabiskan lima jatah pergantian pemain untuk mengejar ketertinggalan. Sekalinya peluang emas itu datang di menit 82’, Kvaratskhelia justru gagal menunaikan tugas selaku algojo penalti. Tembakannya dibaca dengan sangat baik oleh Mike Maignan.
Pemburuan gol Napoli hanya berujung satu gol lewat sundulan Osimhen di detik-detik akhir laga. Berhubung gol itu lahir di ekstra time (90+3’), wasit Szymon Marciniak tak banyak memberi kelonggaran dari jatah awal empat menit tambahan.
Milan pun berhak lolos ke semifinal untuk pertama kalinya sejak musim 2006/07, musim di mana mereka akhirnya keluar sebagai juara.
*Tendangan meleset
Berkaca dari data statistik, efektivitas Napoli dalam mengkonversi peluang menjadi salah satu faktor kegagalan. Pasalnya, mereka mencatatkan 23 tembakan di sepanjang laga. Jumlah itu hampir empat kali lipat lebih banyak dibanding koleksi Milan (enam tembakan).
Hanya saja, akurasi mereka sangat buruk. Hal itu bisa terlihat dari jumlah shot on goal Napoli (4) yang justru tak lebih banyak dari Milan (4).
Kvaratskhelia mungkin menjadi salah satu pemain Napoli yang menyesali ketidakberuntungannya. Selain gagal mengeksekusi penalti, bomber asal Georgia itu juga menjadi pemain Napoli dengan jumlah tembakan terbanyak (6 tembakan).
Menyusul kemudian Osimhen (4), serta Politano, Hirving Lozano, Piotr Zielinski, dan Tanguy Ndombele yang sama-sama mencatatkan dua tembakan.
Sedangkan dari kubu Milan, Giroud menjadi yang terdepan lewat tiga tembakan. Menyusul kemudian Leao, Junior Messias, dan Alexis Saelemaekers yang masing-masing membuat satu tembakan.
Yang pasti, Milan – meski tampil dengan lebih banyak bertahan – membuktikan bahwa DNA Liga Champions mereka masih lebih kental dibanding Napoli.
Hasil ini juga menuntaskan trilogi pertemuan kedua klub di sepanjang bulan April ini dengan tak sekali pun Il Diavolo kalah dari Napoli lewat dua kemenangan satu kali hasil imbang.


