Luis Rubiales mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF, Real Federacion Espanola de Futbol) pada Senin (11/9). Keputusan itu menyusul skandal ciuman yang ia lakukan kepada kapten timnas perempuan Spanyol.
Rubiales merangkul dan kemudian mencium kapten Jennifer Hermoso saat selebrasi keberhasilan timnas wanita Spanyol menjuarai Piala Dunia Wanita di Australia-Selandia Baru bulan lalu. Tindakan tersebut mengundang kritik luas.
Hermoso menyatakan bahwa ciuman setelah Spanyol menundukkan Inggris di final tersebut tidak konsensual atau atas kesepakatan bersama. Pada Selasa pekan lalu, pemain berusia 33 tahun itu mengirimkan pengaduan hukum.
Pedro Rocha naik menjadi pejabat presiden RFEF. Rubiales berkata bahwa ia telah mengirim surat pengunduran dirinya kepada Rocha.
Dalam wawancara di televisi dengan presenter kontroversial asal Inggris, Piers Morgan, Rubiales menyatakan bahwa dirinya tidak bisa melanjutkan tugasnya. Rubiales juga menanggalkan posisinya sebagai wakil presiden di komite eksekutif UEFA.
Insiden di sekitar penyerahan trofi pertama Spanyol wanita itu lebih menyita perhatian daripada keberhasilan tim tersebut. Sang presiden juga didapati memegang selangkangannya saat merayakan gol Hermoso yang membawa kemenangan 1-0 atas Inggris di Sydney itu. Padahal, di dekatnya ada Ratu Spanyol, Letizia, dan putrinya.
Namun, sebelum membuat keputusan terakhir, Rubiales berulang kali menyatakan bahwa dirinya tidak menggubris anjuran untuk mundur.
Menyusul pernyataan Hermoso pada Selasa lalu, kejaksaan meluncurkan pengaduan legal kepada Pengadilan Tinggi Spanyol tiga hari kemudian. Isinya adalah dugaan kekerasan seksual yang dilakukan Rubiales.
Rubiales menyatakan bahwa ciuman itu “mutual dan konsensual” atau kira-kira sama-sama mau. Meski bersikeras demikian, pria berusia 46 tahun itu telah ditangguhkan FIFA dari jabatannya. Rubiales menyorot keputusan badan tertinggi sepak bola dunia itu.
“Setelah penangguhan FIFA itu, ditambah penyelidikan lain terhadap saya, jelaslah bahwa saya tidak bisa kembali ke posisi saya. Bersikeras menunggu dan bertahan tidak akan berujung positif, baik untuk federasi atau sepak bola Spanyol,” ucap Rubiales dikutip BBC.
Sejumlah 81 pemain Spanyol, termasuk ke-23 pemain yang menjadi juara dunia di Australia-Selandia Baru 2023, menyatakan bahwa mereka tidak akan bermain untuk timnas lagi kalau Rubiales tidak turun dari posisinya. Bulan lalu, pendemo mengerubungi kantor RFEF menuntut Rubiales mundur. Pesepak bola, politikus, dan selebritas juga menentang pria berkepala plontos itu.
Pada akhir Agustus, Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, menggambarkan perilaku Rubiales sebagai “tidak pantas”, tapi meminta investigasi FIFA berjalan adil. Pada awal bulan ini, pengadilan olahraga Spanyol (TAD) membuka kasus tindakan tidak sepantasnya terhadap Rubiales. Menurut TAD, Rubiales telah melakukan “aksi ofensif serius” dengan mencium Hermoso.
“Saya percaya kepada kebenaran dan akan melakukan apa saja untuk mengungkapkannya. Putri-putri saya, keluarga, dan mereka yang mencintai saya telah menderita terhadap efek dakwaan berlebihan dan keliru ini. Namun, di jalanan, kebenaran terungkap sedikit demi sedikit,” ucapnya dalam wawancara.
Sejumlah drama mewarnai kasus ini. Pada 28 Agustus, ibu Rubiales mogok makan di gereja kota asal, Motril, sebagai bentuk unjuk rasa.
Sebelumnya, Jorge Vilda, pelatih yang membawa Spanyol wanita kampiun, mengkritik Rubiales disusul mundurnya staf kepelatihan. Pada 5 September, 16 hari setelah Spanyol juara, Vilda, disebut dekat dengan Rubiales, dipecat. Montserrat Tome ditunjuk sebagai bos baru La Roja wanita.


