Jebreeetmedia Talent Management selaku manajemen dari Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani sangat mengapresiasi raihan yang didapat keduanya selama tur Eropa. Menjadi runner-up di Orleans Masters 2024, semifinalis di Swiss Open 2024 dan juara di Spain Masters 2024 merupakan prestasi yang sangat membanggakan.
Mengawali tur Eropa di peringkat 49 dunia, kini Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani berhasil naik sampai ke-26 dunia. Naiknya peringkat Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani tak lain berkat keberhasilan di tur Eropa.
Lebih spesial lagi, dalam tur Eropa ini Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani memulai perjalanan mereka sebagai atlet profesional. Semua persiapan, akomodasi dan juga fasilitas diatur dan dibiayai dari saku sendiri.
Banyak cerita yang dilalui oleh keduanya, dari mulai memesan kendaraan sendiri ke setiap tempat yang dituju, lalu booking hotel secara mandiri, sampai rela tidak tidur demi bisa berlanjut ke tempat lain untuk ikut serta di sebuah turnamen.
Semakin mendebarkan lagi ketika Sabar Karyaman Gutama sempat mengalami cedera saat beraksi di Swiss Open 2024. Saat itu Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani tampil di babak semifinal.
Selepas dari Swiss Open 2024 Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani hampir tidak akan melanjutkan bertanding di Spain Masters 2024. Namun siapa sangka, justru keduanya menjadi juara di ajang tersebut.
Untuk mengetahui bagaimana cerita serta perjalanan mereka selama tur Eropa, Jebreeetmedia mengadakan konferensi pers yang diadakan di Pasti Bisa Coffee di Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (2/4).
Mohammad Reza Pahlevi Isfahani menceritakan awal perjalanan mereka sedari Prancis. Usai menceritakan perjalanan awal, ternyata total membutuhkan waktu satu hari setengah di perjalanan.
“Dari awal mengurus sendiri, mulai booking tiket pesawat, apartemen mencari budget paling masuk karena dari official harganya tinggi jadi tidak kami pilih demi menekan budget.
“Di perjalanan kami hampir satu hari lebih waktu itu karena kami mendarat di Paris, lalu naik kereta dan harus transit beberapa jam. Total kami itu satu setengah hari di luar, jadi itu mungkin kondisi yang sebenarnya berpengaruh saat main.
“Hanya dari awal kami komitmen ingin bermain dan hasil yang terbaik, jadi kami lebih berpikir ke situ,” ungkap Mohammad Reza Pahlevi Isfahani.
Sabar Karyaman Gutama juga mengungkapkan alasan lebih memilih apartemen. Dengan memilih apartemen, maka mereka bisa memenuhi keperluan nutrisi yang dibutuhkan.
“Kenapa memilih di apartemen dan tidak di hotel, karena hotel budget-nya tidak masuk dan space (ruangan) nya terlalu kecil. Biar nyaman dan asupan nutrisi terjaga, mau tidak mau harus masak.
“Kalau di Eropa itu resto (buka) jam 12 sampai jam 2 lalu dijeda dan lanjut jam 6 sampai jam 8. Di hotel kan tidak bisa masak, jadi kami cari apartemen biar bisa masak,” jelas Sabar Karyaman Gutama.
Soal cedera dari Sabar Karyaman Gutama saat di Swiss Open, Mohammad Reza Pahlevi Isfahani sempat khawatir akan keadaan rekannya itu. Faktor cedera itu pula yang membuat akhirnya Sabar/Reza kalah di semifinal.
“Sebetulnya berharap di Swiss Open 2024 bisa All Indonesian Final, cuma gagal. Di set pertama dari segi permainan siapa yang siap dia yang menang.
“Sebenarnya kami tidak kalah hanya Sabar [Karyaman Gutama] tangannya ketarik, dari situ saya sendiri sedikit nge-down juga. Saya berambisi ingin menang, tetapi setelah cedera saya juga khawatir dengan keadaan Sabar.
“Tidak ada yang mau juga cedera. Di set ketiga saya sudah bilang main di depan saja biar saya di belakang. Akan tetapi, kondisi shuttlecock berat, pasangan Inggris tahu dan main lob terus ke Sabar, jadinya saya juga kesulitan,” ucap Reza Karyaman Gutama.
Selepas perjalanan Sabar/Reza berakhir di Swiss Open, mereka harus kembali berjuang di Spain Masters 2024. Di sinilah cerita indah dari Sabar/Reza tercipta.
Sempat hampir tidak akan lanjut Spain Masters 2024 karena cedera, namun Sabar/Reza pada akhirnya bisa keluar sebagai juara berkat permainan lepas dari keduanya.
“Kami naik pesawat ke Swiss, lalu lanjut naik metro sejam, 14 kali berhenti di stasiun. Setelah sampai, lanjut jalan kaki satu kilo meter ke apartemen,” ucapnya.
“Tangan lebih bengkak, kami coba hubungi fisioterapi pelatnas. Dia cuma nyaranin kalau bengkak dan sakit jangan lanjut karena takutnya tendon putus.
“Tapi kalau sudah tidak sakit bisa dilanjut. Jadi saya tuh bengkak, cuma narik aja kerasa. Komunikasi juga dengan fisioterapinya Pelatnas jadi jauh lebih baik. Saya datang ke sana (hotel pelatnas) langsung saat di Madrid,” sambungnya.
“Khawatirnya kalau WO (walk-out) itu memang kena denda tapi kalau main dulu dan berhenti tidak akan kena denda.
Sabar Karyaman Gutama menambahkan, “Jadi pagi-pagi coba pukul-pukul sakit banget. Reza juga pernah di betis dan menyarankan jangan dipaksakan karena bisa berdampak ke turnamen lain karena butuh recovery panjang.
“Kita booking tiket dulu, yang minggu di-refund. Ketika sudah sampai di lapangan coba minum painkiller dulu 2 jam sebelum main.
“Ini kondisi bola di sini kencang banget, setengah set coba dulu. Eh, taunya menang. Itu paling lucu, sih. Kami malah ketawa-ketawa saja, dianya (lawan) banyak mati sendiri. Untuk itu, kami tidak ada beban. Mainnya tetap enjoy tidak ada target gimana-gimana,” tuturnya.
Selanjutnya, Sabar/Reza akan mempersiapkan diri untuk mengikuti tur Asia. Turnamen yang akan diikutinya mulai dari kelas 500 sampai kelas 1000.
“Next-nya ada Thailand Open, Malaysia Masters itu 500, Singapura Open 750 dan Indonesia Open itu 1000. Mulainya di bulan Mei sampai Juni.
“Kami berdua terima kasih buat support-nya dan semoga kami bisa semakin berprestasi lagi, bisa membanggakan Indonesia di setiap turnamen yang diikuti. Jangan lupa untuk terus mendukung kami,” tutup Sabar/Reza.
View this post on Instagram


