Pemenang laga Spanyol versus Italia di Arena Aufschalke, Gelsenkirchen, Jumat (21/6), dipastikan lolos ke babak 16 besar. Hal itu lantaran dua kontestan grup B lainnya, yakni Kroasia dan Albania, cuma bermain imbang 2-2, Rabu (19/6).
Baik Kroasia dan Albania baru meraih satu poin karena sama-sama kalah di laga pembuka grup. Kroasia takluk dari Spanyol, sedangkan Albania takluk dari Italia.
Itulah mengapa, pemenang laga Spanyol vs Italia, secara matematis (6 poin), sudah tak mungkin terkejar dan dipastikan lolos ke babak 16 besar. Dengan begitu, pelatih juga bisa lebih tenang merotasi pemainnya di laga penutup grup.
Italia menikmati betul skema tersebut saat menjuarai Euro 2020. Gli Azzurri memenangi dua laga awal, yakni menang 3-0 vs Turki dan 3-0 vs Swiss. Pelatih Italia saat itu, Roberto Mancini, bisa leluasa merotasi pemain. Ia mengistirahatkan lima pemain kuncinya di laga penutup kontra Wales (menang 1-0).
Jadi, saat harus menjalani laga hingga babak perpanjangan waktu versus Austria di babak 16 besar, pasukan Mancini masih sanggup mencetak dua gol.
Masalah kebugaran juga menjadi kunci kemenangan Italia kala kemudian berturut-turut menekuk Belgia, Spanyol, dan Inggris, hingga akhirnya ke tangga juara.
Bagaimana dengan Spanyol kala itu? Berhubung ditahan imbang 0-0 Swedia di laga pembuka, skuat Matador “dipaksa” terus bekerja keras dan harus puas lolos ke fase gugur dengan status runner-up (setelah Swedia).
Tanpa keleluasaan rotasi pemain, Luis Enrique selaku pelatih Spanyol kala itu, harus pintar-pintar dalam memforsir tenaga anak asuhnya. Pasalnya, Spanyol dipaksa bermain 120 mejat kontra Kroasia di babak 16 besar, dan babak adu penalti kala bersua Swiss di babak perempat final. Kala itu, Italia pulalah yang akhirnya menghentikan langkah Spanyol di babak semifinal lewat kemenangan adu penalti.
*Ujian eksistensi terkini tiki-taka
Selain menghidangkan tiket lolos ke babak 16 besar bagi tim pemenang, pertemuan versus Italia kali ini juga menjadi ujian bagi Spanyol terkait eksistensi gaya permainan tiki-taka mereka.
Pasalnya, di laga pembuka kontra Kroasia, pola itu tak terlalu kentara. Alvaro Morata dkk. memang sukses menggulung Luka Modrid cs. lewat kemenangan meyakinkan 3-0.
Namun, jika berkaca pada data statistik, Spanyol tak sepenuhnya menguasai laga. Mereka tak hanya kalah dalam persentase penguasaan bola (46% berbanding 54%), tapi juga kalah jumlah peluang (11 berbanding 16). Selain itu, Kroasia juga melakukan operan lebih banyak (528) dibanding Spanyol (455).
Bandingkan dengan Italia, yang meski sempat tertinggal 0-1 lebih dulu kala bersua Albania di laga pembuka, namun tetap mampu menguasai laga hingga akhirnya berbalik menang 2-1.
Di laga tersebut, Federico Chiesa bahkan jauh mendominasi ketimbang Albania lewat keunggulan penguasaan bola (66% berbanding 34%), jumlah peluang (16 berbanding 8), hingga jumlah operan (822 berbanding 382).
Namun, bukan berarti kali ini Spanyol tak punya modal untuk menaklukkan Italia. Skuat La Furia Roja, bisa mengedepankan catatan head-to-head yang masih lebih condong ke mereka dalam lima pertemuan terakhir.
Selain kekalahan adu penalti di Euro 2020, Spanyol justru mendulang tiga kemenangan dan cuma sekali ditahan imbang.
Jadi, selain misi merebut tiket lolos ke babak 16 besar, laga ini juga bisa menjadi kesempatan bagus bagi Spanyol untuk membuktikan bahwa gaya khas permainan tiki-taka mereka masih tetap eksis.


