Georgia boleh saja mencuri perhatian berkat kemenangan teranyar 2-1 mereka atas Portugal di laga penutup grup (27/6). Selain membuat kesal Cristiano Ronaldo, kemenangan itu juga mengantar Georgia lolos ke babak 16 besar.
Namun, euforia Khvicha Kvaratskhelia dkk. sepertinya bakal terhenti. Pasalnya, lawan berikutnya yang akan mereka hadapi di Cologne Stadium, Koln, Senin dini hari (31/6) adalah Spanyol.
Skuat La Furia Roja merupakan satu-satunya kontestan yang mampu memborong seluruh kemenangan di fase grup. Mereka sukses mengemas nilai sempurna sembilan poin! Apalagi, dua dari tiga lawan yang mereka taklukkan juga bukan tim sembarangan: Kroasia dan Italia.
Setelah menang telak 3-0 atas Kroasia di laga pembuka, Alvaro Morata dkk. memang cuma menang tipis 1-0 atas Italia. Namun, kemenangan tipis satu gol itu tak sepenuhnya menggambarkan jalannya laga. Pasalnya, Spanyol tampil begitu dominan lewat keunggulan penguasaan bola (57% berbanding 43%) dan jumlah peluang (20 berbanding 4).
Sedangkan di laga penutup grup yang tak lagi menentukan kontra Albania, skuat asuhan Luis de la Fuente itu cuma menang tipis 1-0 gol lantaran sang pelatih merotasi para pemainnya demi faktor kebugaran.
Hanya Aymeric Laporte yang masuk starting line-up. Sisa 10 pemain lainnya untuk pertama kali mendapat kesempatan menjadi starter. Strategi itu menyiratkan betapa Spanyol mampu membentuk dua versi tim dari komposisi pemain mereka.
Kebijakan rotasi membuat pemain-pemain utama Spanyol lebih segar ketimbang pilar-pilar Georgia yang harus tampil habis-habisan melawan Portugal. Selain itu, Spanyol juga punya waktu rehat sekitar satu setengah hari lebih panjang ketimbang Georgia.
*Pesona Mikautadze dan Kvaratskhelia
Setidaknya, ada dua pemain andalan Georgia yang wajib diwaspadai Spanyol. Mereka adalah Khvicha Kvaratskhelia dan George Mikautadze. Keduanya sama-sama menyumbang satu gol ke gawang Portugal. Kvaratskhelia mencetak gol pembuka dan Mikautadze gol penutup.
Selaku pemain ternama di Napoli, Kvaratskhelia jadi pemain paling diandalkan Georgia. Sebagian besar serangan dibebankan padanya. Meski baru mengemas satu gol, peran itu setidaknya bisa dijalankan dengan baik oleh Kvaratdona – julukan dari fan Napoli.
Rating penampilannya versi Flashscore selalu di atas tujuh di tiga laga fase grup, yakni 7,3 (vs Turki), 7,2 (vs Ceko), dan 8,3 (vs Portugal – sekaligus menjadi pemain terbaik laga).
Yang lebih mencuri perhatian justru Mikautadze. Berhubung selalu menyumbang satu gol di tiga laga fase grup, namanya kini bercokol di puncak daftar pencetak gol terbanyak sementara.
Striker Metz tersebut sudah melepas tujuh percobaan gol yang sekaligus mengantarnya masuk dalam 20 besar daftar pemain berdasarkan jumlah peluang.
Ia masih lebih sering mengancam gawang lawan ketimbang beberapa bomber ternama lainnya semisal Cody Gakpo (Belanda), Dusan Vlahovic (Serbia), Bruno Fernandes (Portugal), Jamal Musiala (Jerman), Robert Lewandowski (Polandia), Jeremy Doku (Belgia), dan masih banyak lagi.
*Lini pertahanan juga oke
Penampilan cemerlang Kvaratskhelia dan Mikautadze tak lepas dari solidnya permainan rekan-rekan mereka, khusus di lini belakang.
Gelandang bertahan, Giorgi Chakvetadze, tercatat sebagai pengoleksi tekel sukses terbanyak (12 tekel) di sepanjang fase grup. Selain itu, duo bek tengah Lasha Dvali dan Otarkakbadze, serta gelandang bertahan lainnya, Giorgi Kochorashvili, juga masuk dalam 15 besar dalam daftar serupa berkat koleksi tujuh tekel sukses.
Peran Giorgi Mamardashvili di bawah mistar juga tak kalah besar. Ia tercatat sebagai kiper dengan jumlah penyelamatan terbanyak (20 kali) di sepanjang fase grup.
Di tiga laga fase grup, Georgia memang tak pernah mendominasi laga. Mereka juga selalu kalah dalam hal penguasaan bola dan jumlah peluang. Namun, bukan berarti mereka mudah ditaklukkan. Portugal dan Ronaldonya sudah merasakan.
Begitu pula Ceko yang ditahan imbang 1-1. Itupun lebih karena gol keberuntungan bomber Ceko, Patrick Schick, lantaran bola pantul menghampirinya di depan gawang lawan.
Begitu rekan-rekannya di lini pertahanan sulit ditembus dan lawan mulai kehilangan akal, giliran Kvaratskhelia dan Mikautadze yang beraksi lewat upaya serangan-serangan balik cepat.
Alhasil, Georgia menjadi satu dari hanya enam tim yang mampu mencetak gol di tiga laga fase grup selain Jerman, Swiss, Spanyol, Polandia, dan Ceko.
Hal itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Spanyol selaku satu-satunya tim – selain sukses memborong seluruh kemenangan di fase grup – juga sukses belum pernah kebobolan.
Jika mampu menang clean-sheet atas Georgia, Spanyol layak melanjutkan status mereka sebagai tim yang paling sempurna sekaligus tim terdepan sebagai calon favorit juara.
PRAKIRAAN FORMASI
SPANYOL (4-3-3):
Simon;
Carvajal, Le Normand, Laporte, Cucurella;
Ruiz, Pedri, Rodri,
Yamal, Morata, Williams
GEORGIA (5-3-2)
Mamardashvili;
Kakabaze, Gvelesiani, Kashia, Dvali, Lochoshvili;
Kochorashvili, Kiteishvili, Ckavetadze;
Kvaratskhelia, Mikautadze.
View this post on Instagram


