Bukti bahwa para pebultangkis dunia tetap tampil habis-habisan di BDMNTN-XL, meski ajang tersebut berbalut eksebisi, benar-benar tersaji di hari pertama, Kamis (31/10).
Publik Istora Senayan setidaknya bisa benar-benar terhibur melihat langsung para jagoan mereka bermain habis-habisan.
Apa yang diperlihatkan Victor Axelsen jadi bukti paling sahih. Tergabung di tim Lighting, ia berhadapan dengan Kunlavut Vitidsarn yang masuk tim Blitzers.
Dalam laga berformat empat set, Victor lebih dulu tertinggal 1-2 di tiga set awal, sebelum akhirnya sukses menyamakan kedudukan di set penentuan dengan skor 12-10.
Pemain asal Denmark itu akhirnya memenangi laga setelah memenangi sudden death showdown dengan skor 2-0. Sambil berteriak lega, Axelsen lalu mengangkat keduanya tangannya.
“Saya memang benar-benar serius mengikuti ajang ini karena lawan-lawan yang ikut serta juga bagus-bagus. Cocok untuk mengetes kemampuan dan kebugaran saya untuk mempersiapkan diri ke beberapa turnamen akhir tahun. Lagipula, hadiahnya juga besar. Tak ada alasan untuk main-main. Saya tipikal pemain yang selalu berupaya tampil maksimal di setiap ajang,” ujar Axelsen.
*Sampai sulit tidur karena sudah jadi ibu
Bukti keseriusan lain diperlihat Greysi Polli yang masuk satu tim dengan Axelsen (Lighting). Ia berpasangan dengan pemain asal India yang juga merupakan sahabatnya, Ashwini Ponnappa.
Berhubung BDMNTN-XL merupakan ajang kompetitif pertama Polli setelah gantung raket, peraih medali emas Olimpiade 2022 itu awalnya mengaku kaget saat pertama kali diminta berpartisipasi. Apalagi, Polli mengaku kebugarannya sudah jauh berbeda setelah menjadi ibu.
“Gak nyangka juga waktu diajak sebagai peserta. Saya sempat lama berfikir dan mengiyakan. Jadi, saya tetap berterima kasih kepada BDMNTN-XL dan SPOTV karena masih menyertakan saya tampil,” ujar Polii.
“Apalagi, setelah pensiun, saya beralih ke tenis. Kondisi fisik dan kebugaran saya juga sudah jauh berbeda setelah melahirkan. Sampai malam sebelum pertandingan, saya susah tidur karena terus kepikiran: ‘Masih bisa gak ya,” lanjutnya.
“Tapi, walaupun dengan persiapan yang tidak banyak, cuma tiga minggu dan latihan cuma sekali-dua kali seminggu, itu yang bikin saya bukan hanya tertantang, tapi juga mau kasih yang terbaik juga untuk turnamen ini, tutup Polii.
Benarkah demikian menurut Ponnappa selaku pasangannya di lapangan?
“Yaya, saya rasa kemampuan Polii belum sepenuhnya hilang. Ia masih bisa mengejar dan mengembalikan bola-bola sulit lawan. Pergerakannya dan pukulannya juga masih bagus. Buktinya, saya tak terlalu capek untuk meng-cover-nya di lapangan,” timpal Ponnapa seraya melirik Polii.
*Lee Yong Dae senang satu tim dengan Hendra
Apa yang dirasakan pemain legendaris Korea Selatan, Lee Yong Dae, juga tak kalah unik. Mirip-mirip dengan Polii, Lee juga sudah pensiun. Hanya bedanya, aktivitas Lee masih kerap bersinggungan dengan badminton.
Selain melatih dan jadi pundit di televisi, ia juga beberapa kali masih diundang untuk bermain di ajang-ajang eksibisi. Jadi, secara skil dan stamina, performa Lee di lapangan terbilang masih cukup mengesankan.
Namun, ada satu faktor lain yang membuatnya tambah antusias untuk tampil di ajang ini, yakni karena bisa berada satu tim dengan Hendra Setiawan di Rockets.
Bersama tunggal putri asal Jepang Mitsaki Matsutomo, Lee dan Hendra bahkan sempat bertandem dan bahu membahu di lapangan dalam partai 3vs3 menghadapi tim Hurricanes yang dibela Aaron Chia, Teo Ee Yi, dan srikandi asal Indonesia, Gloria Emanuelle Widjaja.
Meski akhirnya kalah, Lee tetap bersyukur karena harapannya bertandem dengan Hendra bisa terwujud.
“Dulu, waktu saya masih aktif bermain maupun sesudah pensiun, sempat ada beberapa kali bertemu dengan Hendra, tapi sebagai lawan. Baru kali inilah kami bisa berada satu tim dan sudah lama saya membayangkannya,” ujar Lee.
===
View this post on Instagram


