Beberapa hari belakangan ini, media-media Eropa ramai mengabarkan soal isu transfer Jeremie Frimpong ke Liverpool. Bek sayap kanan Bayer Leverkusen asal Belanda itu disebut-sebut sebagai calon pengganti utama Trent Alexander-Arnold (TAA) yang sudah memutuskan hengkang dari Anfield akhir musim ini.
Frimpong sebenarnya masih terikat kontrak hingga 30 Juni 2028 di Leverkusen. Namun, yang bersangkutan dikabarkan tertarik merapat ke Liverpool.
Di sisi lain, manajemen The Reds kabarnya siap membayar klausul pelepasan kontrak (release clause) yang berkisar di antara 45 juta euro jika mengacu pada data Transfermarkt.
Jika skenario itu terealisasi, Frimpong akan menjadi pemain termahal yang didatangkan Liverpool semenjak era kepelatihan Arne Slot.
Saat ini, status tersebut masih melekat pada kiper timnas Georgia yang diboyong Liverpool pada awal musim ini, Giorgi Mamardashvili (30 juta euro). Di sepanjang musim ini, Mamardashvili masih dipinjamkan ke klub asalnya, Valencia.
Lalu, dengan biaya sekitar 45 juta euro, Frimpong bakal melesat sebagai pembelian bek termahal kedua Liverpool setelah Virgil van Dijk (85 juta euro). Frimpong melewati harga pembelian Ibrahima Konate (40 juta euro) yang diboyong dari RB Leipzig pada tahun 2021 silam.
Menurut data Transfermarkt, jika skenario itu terjadi, Frimpong juga akan menjadi pembelian bek termahal ketujuh sepanjang masa. Ia merebut pos yang ditempati Achraf Hakimi kala dibeli Inter Milan seharga 43 juta euro pada tahun 2020 silam.
*Apa yang istimewa dari Frimpong?
Sebenarnya, Liverpool masih memiliki Conor Bradley untuk mengisi pos yang bakal ditinggalkan TAA. Musim ini, Bradley (21 tahun) bahkan menjadi pemain muda berusia 22 tahun ke bawah, yang paling banyak mendapat menit tampil (1.263 menit).
Jumlah menit bermain Bradley bahkan unggul dibanding dua kakak kelasnya yang sudah lebih dulu mencuat ke skuat utama, semisal Jarrel Quansah (1.200 menit) maupun Harvey Elliot (727 menit).
Namun, langsung mengandalkan Bradley untuk menggantikan pemain sekaliber TAA bukanlah keputusan bijak. Bagaimana pun juga, Slot butuh opsi lain dan Frimpong dianggap sebagai sosok yang tepat.
Secara pengalaman, Frimpong sudah lebih matang dibanding Bradley. Selain sudah menjadi pemain reguler di Leverkusen, ia juga masuk ke timnas Belanda. Kariernya di timnas bahkan dijalaninya setapak demi setapak, yakni dari Belanda U-19 hingga U-21.
Apalagi, selaku produk asli dari akademi Manchester City (2010 hingga 2019), Frimpong dipandang tak akan kesulitan untuk beradaptasi dengan iklim Premier League.
Sedangkan kalau soal aspek teknis, ada satu hal dari data statistsik penampilan Frimpong, yang setidaknya cukup menjanjikan bagi skuat Merseyside Merah, yakni ia tak kalah produktif dibanding TAA.
Semenjak membela Leverkusen, Frimpong sudah mengemas 30 gol dari total 190 penampilannya di semua ajang. Sedangkan TAA, “cuma” mengoleksi 23 gol dari total 353 penampilannya di Liverpool.
Tapi kan TAA lebih kondang sebagai maestro assist dibanding pemburu gol? Ya, pemain yang digosipkan bakal merapat ke Real Madrid itu memang sudah mengukir 92 assist untuk Liverpool. Sedangkan Frimpong cuma 44 assist untuk Leverkusen.
Namun, jika koleksi gol dijumlahkan dengan assist untuk menunjukkan kontribusi langsung seorang pemain, maka nilai Frimpong masih lebih bagus dibanding TAA lantaran dirinya belum tampil sebanyak TAA.
Menurut Transfermarkt, Frimpong mencatatkan rata-rata kontribusi langsung sekitar 0,47 gol untuk Leverkusen setiap kali tampil 90 menit. Sementara itu, TAA cuma mencatatkan 0,37 gol.
Is Jeremie Frimpong the ideal replacement for Trent Alexander-Arnold at Liverpool? 👀 pic.twitter.com/RXMvNu3MTx
— Transfermarkt.co.uk (@TMuk_news) May 13, 2025
===
Is Jeremie Frimpong the ideal replacement for Trent Alexander-Arnold at Liverpool? 👀 pic.twitter.com/RXMvNu3MTx
— Transfermarkt.co.uk (@TMuk_news) May 13, 2025


