Alejandro Garnacho berulah dan berpotensi membuat dirinya pergi dari Man. United. Pasalnya, sang sayap rada terang-terangan mempertanyakan keputusan Ruben Amorim memainkannya hanya 20 menit di final Liga Europa pada Rabu (21/5) di San Mames.
Kekalahan dari sesama klub papan tengah menuju bawah Premier League, Tottenham Hotspur, sudah membuat United tersudut hingga diistilahkan akan masuk gua entah untuk berapa lama. Gol tunggal Brennan Johnson tak hanya menuntaskan paceklik gelar Spurs selama 17 tahun, tapi menambah tekanan buat The Red Devils. United bakal absen di kompetisi Eropa musim depan.
Drama setelah laga puncak di Bilbao berlanjut di kubu United. Garnacho berkicau keras mengenai keputusan Amorim membangkucadangkan dirinya dan lebih memilih Mason Mount. Garnacho baru masuk menggantikan Mount ketika waktu normal tersisa 19 menit.
“Menuju final, saya tampil di setiap ronde untuk mengangkat tim. Hari ini saya bermain 20 menit. Entahlah,” begitu kata Garnacho. “Final akan memengaruhi keputusan, juga musim keseluruhan dan situasi klub. Saya akan menikmati musim panas dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya,” lanjut pemain berusia 20 tahun itu.
Setelah mendapati dirinya akan berada di bangku cadangan sekitar enam jam sebelum sepak mula di San Mames, Garnacho sudah mengisyaratkan kegusarannya di media sosial. Ia menayangkan gambar perayaannya setelah final Piala FA 2024 dan Community Shield.
Seperti menyiram minyak ke api menyala, kakaknya, Roberto, ikut menyuarakan kekesalan. Alejandro telah “dilemparkan ke bawah bus”, ungkapan yang kira-kira mendapat perlakukan tidak adil, diabaikan, atau bahkan dipersalahkan.
“Berlatih lebih keras, membantu di setiap ronde, mencetak dua gol di dua final terakhir, hanya untuk bermain selama 19 menit dan dilemparkan ke bawah bus,” tulis Roberto Garnacho.
Ungkapan kegeraman itu tak luput dari perhatian. Setelah final, Amorim menyatakan bahwa dirinya memiliki alasan untuk menepikan Garnacho, yakni momen di leg 2 semifinal kontra Athletic Bilbao kala pemain Argentina itu menyia-nyiakan peluang di babak pertama.
“Berapa kali kita membicarakan ini, dan apakah berbeda kali ini? Pemain tampil, seperti Mason Mount, menghadapi Bilbao dan mengubah permainan. Gampang saja. Siapa yang meluputkan kesempatan besar di babak pertama kontra Bilbao? Yah, begitulah. Tentu mudah sekarang untuk membicarakan sekian banyak sudut pandang,” tukar Amorim dikutip BBC.
Amorim dihadapkan kepada keharusan merombak tim agar bisa bangkit dari keterpurukan untuk musim depan. Hanya, tidak lantas jelas apakah pelatih Portugis ini cukup berani melepas Garnacho yang bisa dikatakan salah satu pemain terbaik yang dimiliki United saat ini.
Bukan kali pertama Garnacho cari gara-gara dengan Amorim. Sang bos anyar sudah pernah mencoret sang sayap dan Marcus Rashford dari tim yang akan bertandang ke rumah tetangga, Man. City, pada Desember lalu. Alasannya adalah performa saat latihan, pertandingan, dan interaksi dengan rekan setim.
Dua bulan berselang, Amorim mengatakan bahwa Garnacho telah meminta maaf kepada rekan-rekannya. Permohonan maaf itu karena ia telah ngeloyor ke lorong kamar ganti setelah ditarik keluar ketika menghadapi Ipswich Town.
Amorim bukan pelatih United pertama yang mesti berurusan dengan tingkah antik Garnacho. Pemain yang didatangkan United dari Atletico Madrid itu meminta maaf kepada Erik ten Hag karena telah mengkritik pendahulu Amorim itu menyusul kekalahan dari Bournemouth musim lalu.
Menarik menanti bagaimana pendapat para fan United. Dipertahankan atau dijual saja, nih, pemain kayak gitu?
View this post on Instagram


