Kesuksesan Tottenham Hotspur menumbangkan Man. United di final Liga Europa pada Rabu (21/5) masih mengundang pertanyaan seputar masa depan manajer masing-masing finalis.
Gol tunggal Brennan Johnson pada menit ke-42 membawa Tottenham ke gelar ketiga mereka di ajang ini. “Saya sangat gembira saat ini. Musim ini sama sekali tidak bagus sebelumnya, tapi sumpah tidak ada yang peduli soal itu saat ini. Klub ini tidak merasakan gelar selama 17 tahun,” ucap Johnson dikutip Reuters.
Dengan satu pekan tersisa di Premier League, Spurs berada di peringkat ke-17. Man. United satu anak tangga di atasnya dengan keunggulan satu poin saja.
Kapten Son Heung-min merupakan satu-satunya pemain tersisa dari skuad Tottenham yang mengalami kekalahan di final Liga Champion 2019 di tangan Liverpool. “Saya merasakan tekanan. Saya sangat menginginkan gelar ini. Hari ini, mimpi menjadi kenyataan. Kami bisa merayakannya,” ucap Son kepada TNT Sports.
Suara dari kubu United tentu lebih muram. Luke Shaw menilai bahwa musim ini sulit dicerna untuk klub seperti Man. United. Meski begitu, sang bek mendukung Ruben Amorim.
“Saya pikir ada banyak hal yang perlu diubah. Saya rasa itulah mengapa Ruben 100 persen orang yang tepat. Sebab ia tahu dan dapat melihat setiap harinya, tidak hanya di lapangan, tapi juga di dalam lapangan, mengenai isi, standar, dan mental klub,” ujar Shaw kepada AFP.
Akan tetapi, setelah gagal mempersembahkan gelar di musim pertamanya, ditambah finis United di posisi terendah sejak terdegradasi pada 1974, Amorim sendiri tidak tahu persis masa depannya di Old Trafford. Eks pelatih Sporting itu masih yakin akan kemampuannya membalikkan keterpurukan, tapi akan menerima dengan lapang dada keputusan pemecatan.
“Kalau dewan klub dan para fan merasa saya bukan orang yang tepat, saya akan pergi esok hari tanpa perlu membicarakan kompensasi. Namun, saya takkan lari. Saya sungguh percaya diri pada pekerjaan saya. Seperti yang terlihat, saya takkan mengubah cara saya menangani tim,” tutur Amorim.
Masa depan Amorim diperkirakan masih aman. Namun, pelatih asal Portugal itu dipercaya tinggal punya musim depan untuk membuktikan tangan dinginnya.
Bagaimana dengan Ange Postecoglou? Kegagalan di San Mames hampir pasti akan berujung pemecatan. Namun, pelatih asal Australia itu membuktikan kepercayaan dirinya saat mengutarakan kemampuannya memberikan gelar di tahun keduanya dalam sebuah tim. Trofi Liga Europa buat Spurs menjadi bukti teranyar tren itu.
Hanya, peringkat ke-17 di Premier League masih dapat menjadi alasan Spurs untuk mendepak eks pelatih Celtic itu. Paling tidak, tekanan berkurang berkat trofi Eropa pertama sejak Piala UEFA 1984. Postecoglou mengutarakan hasratnya untuk menjadikan kesuksesan di Liga Europa ini untuk membangun tim musim depan.
“Orang-orang bisa menyorot 20 kekalahan di liga dan peringkat, tapi meluputkan poin bahwa kami mencoba membangun tim. Saya sungguh merasa bahwa petang ini bisa menjadi dasar hebat untuk membangun tim. Rileks bukan kata yang tepat buat saya saat ini, karena saya akan kecewa kalau tidak bisa melanjutkan jalan ini,” kata Postecoglou.
“Kami akan tampil di Liga Champion musim depan. Saya berpikir untuk membangun tim yang bisa mencetak kesuksesan untuk empat sampai enam tahun. Namun, saya hanya manajer. Keputusan tidak berada di tangan saya,” pungkas Postecoglou.
Trofi sepertinya akan menyelamatkan Postecoglou. Hanya, seperti Amorim, kesempatan Postecoglou untuk membuktikan diri tidak akan lama, yakni semusim saja, atau bahkan lebih singkat.
Gimana menurut Anda?
View this post on Instagram


