Tottenham Hotspur mencetak kesuksesan besar di Liga Europa. Di final yang digelar di Estadio San Mames, Bilbao, pada Rabu (21/5), Spurs menang tipis atas Man. United walau lawan mendominasi.
Kedua finalis merupakan klub yang berada di papan tengah menuju bawah Premier League. Akan tetapi, duel tetap menyajikan beberapa hal apik. Apa saja yang menarik dari petang di San Mames?
Start Kendali United.
United mengambil kendali permainan sejak awal duel. Penguasaan bola skuad Ruben Amorim mencapai 63% di babak pertama, diikuti 5 tembakan yang dua di antaranya mengarah ke gawang. Kans terbaik Iblis Merah hadir kala tembakan Amad Diallo dari sudut sempit melebar tipis setelah kiper Guglielmo Vicario meninju bola sepak pojok (16′).
Konversi Kans Pertama.
Tottenham membuat 1 shot on goal dari tiga percobaan di babak pertama. Pasukan Ange Postecoglou membuka skor pada menit ke-42 dari kans bersih pertama mereka. Umpan Pape Matar Sarr dari sayap kiri menemui reaksi buruk Luke Shaw. Johnson bisa mencecar untuk kemudian menyodok masuk bola ke tiang dekat walau Andre Onana menutup ruang.

Akrobat Micky.
Momen penting Spurs berikutnya terjadi pada menit ke-68. Tangkapan buruk Vicario dilanjutkan Rasmus Hojlund dengan sundulan ke gawang yang sudah ditinggalkan kiper. Namun, Micky van de Ven membuat sapuan krusial secara akrobatik di depan gawang untuk menjaga keunggulan timnya.

Dua Tangkalan.
United menghasilkan dominasi gila-gilaan di babak kedua dengan 83% penguasaan bola diikuti 11 tembakan dengan 4 shot on goal. Spurs tak bisa membuat sebiji tembakan pun di paruh kedua, sehingga Vicario lalu menjadi bersinar dengan dua aksi menangkal peluang United. Yang pertama kala menepis tembakan Alejandro Garnacho (74′) dan menahan sundulan Shaw (90+7′).
Trofi Ketiga.
Begitu wasit asal Jerman, Felix Zwayer, meniupkan peluit tanda berakhirnya duel, Tottenham meraih trofi mayor pertama sejak Piala Liga 2008. Gelar ini merupakan yang ketiga buat Spurs di Liga Europa setelah 1972 (gelaran pertama) dan 1984 saat masih bernama Piala UEFA.
Tepati Janji.
Kapten Son Heung-min mengangkat trofi untuk menandai kemenangan ke-150 Spurs di kompetisi Eropa. Postecoglou mendapatkan porsi perhatian seiring keberhasilannya menepati janji untuk memberikan trofi di musim kedua seperti yang ia lakukan di tim-tim sebelumnya. Yang lebih berkesan, duel ini merupakan yang ke-100 pelatih Australia itu menukangi Spurs.
Ekstra Noda United.
Hasil ini membuat Spurs jadi kubu pertama sejak 1985-86 yang bisa empat kali mengalahkan Man. United dalam semusim. Untuk pertama kalinya pula United gagal mengalahkan Spurs di 7 laga beruntun.
Kemenangan ini merupakan pula yang kelima buat Spurs dari tujuh duel terakhir dengan Red Devils. Deret 14 laga tak terkalahkan United di ajang ini terhenti di partai final.
View this post on Instagram


