Akhir bahagia didapatkan Napoli dengan scudetto keempat sepanjang sejarah. Namun, catatan mantap Antonio Conte di musim pertamanya di klub Italia Selatan ini tidak diikuti kenyamanan sang pelatih.
Conte mesti melihat kepergian pilar yang dua musim sebelumnya memberikan gelar untuk I Partenopei. Khvicha Khvaratskhelia dan Victor Osimhen memilih pindah klub. Start Napoli pun meresahkan.
Perjalanan Napoli naik turun sepanjang musim. Untuk laga pekan terakhir, Conte bahkan tak bisa mendampingi skuadnya karena kartu merah pekan sebelumnya. Namun, akhirnya bahagia. Conte menjadi pelatih yang sukses meraih gelar Serie A menukangi tiga tim berbeda, yakni Juventus, Inter Milan, dan Napoli. Ia menyamai torehan Fabio Capello, dengan catatan gelar Capello di Juve dianulir karena calciopoli.
“Sesuatu yang indah terjadi. Kami sulit masuk stadion. Entah berapa banyak pendukung yang datang. Saya sempat berpikir, kalau mengecewakan orang-orang ini, akan menghantui kami untuk waktu yang lama,” tutur Conte kepada DAZN.
Lega sudah kampiun, Conte melayangkan pujian tinggi untuk para pemainnya. Menurutnya, kiprah pasukan Napoli tidak mudah karena tekanannya gila-gilaan. Gelar dua musim lalu diikuti finis di peringkat ke-10 musim lalu.
“Ini jelas tantangan yang paling tak terpikirkan, berat, dan melelahkan dalam karier saya. Datang ke Napoli setelah peringkat ke-10 musim lalu, mencoba kembali ke jalur perebutan, dan mencoba meyakinkan beberapa pemain terbaik untuk bertahan karena kami bisa melakukan sesuatu yang positif,” lanjut Conte.
Conte mengenang start musim buruk yang membuat beban berat di pundaknya sejak awal musim. Hasil 0-0 dengan Modena di laga pertama musim di Coppa Italia diikuti kekalahan 0-3 dari Verona di Serie A. “Kemudian kami merayakan scudetto. Luar biasa. Sejujur-jujurnya, sulit untuk juara di Napoli. Klub ini bukan yang bermain secara sistematis untuk juara sejak awal musim,” ucapnya lagi.
Selain soal dalam lapangan, isu yang tak kalah penting yang merebak bahkan setelah kepastian scudetto adalah masa depannya di San Paolo. Gestur kikuk Conte saat presiden klub, Aurelio de Laurentiis, menghampirinya di lapangan menguatkan dugaan bahwa sang manajer akan pindah pada musim panas nanti.
“Kami menikmati segalanya. Rapor saya bagus dengan presiden. Katakan saja kami berkesempatan saling mengenal musim ini. Kami adalah dua pemenang. Mungkin dengan cara yang berbeda, tapi kami adalah pemenang,” ucap Conte diplomatis.
Bagaimana dengan De Laurentiis? Sang presiden, dengan rekam jejak sulit kala berurusan dengan manajer, sebenarnya membuka semua kemungkinan. Hanya, tak ada janji akan menahan langkah pelatih yang konon sudah gerah ditambah rumor pendekatan kubu lain.
Sang presiden berharap Conte bertahan. “Kami berharap hasil ini akan menjadi konsistensi yang kami inginkan,” sebut De Laurentiis.
Sang presiden berkisah bahwa dirinya terpukau dengan mentalitas Conte ketika bertemu di Maladewa dan beberapa tahun lalu berenang bersama. Ia lalu mendekati dan meminta Conte pindah pada November 2023. Akan tetapi, Conte menolak dan bilang bahwa ia tidak membangun tim sehingga paling bagus menunggu sampai Juni agar bisa melakukan hal yang istimewa. “Ia bisa melakukannya. Jadi, salut buat dia,” ujar De Laurentiis.
Sekaligus menepis rumor ketidakcocokan dengan Conte, De Laurentiis menyerahkan keputusan kepada sang manajer. “Semuanya mungkin. Pelatih mempunyai karakternya sendiri yang harus dihormati. Menurut saya, klub tidak boleh mengikat mereka dengan kontrak ketat. Napoli adalah Napoli, yang juga harus dihormati. Kalau ia mendahulukan kepentingan klub seperti yang ia lakukan sepanjang musim ini, maka kami akan mengikutinya selayaknya kepada pemimpin hebat.”
“Musim depan, saya akan sangat senang bila ia membuktikan kemampuannya di Liga Champion yang telah berubah format,” pungkasnya.
View this post on Instagram


