Paris Saint-Germain mencetak sejarah kesuksesan pertama mereka di Liga Champion. Di final yang digelar di Allianz Arena, Munich, pada Sabtu (31/5), PSG tampil superior atas Inter Milan.
PSG tampil mengesankan sehingga bisa mengangkat trofi Si Kuping Lebar untuk pertama kali. Raksasa Prancis itu meluluhlantakkan Inter. Separah apa kerusakan yang dibuat PSG?
Hakimi Hukum Lubang Inter.
Gol pertama diawali operan daerah Fabian Ruiz dari depan kotak penalti. Desire Doue, yang bisa lolos dari jebakan off-side di sisi kanan dalam kotak karena Federico Dimarco tertinggal di kiri, menyodorkan bola ke depan gawang. Achraf Hakimi mudah menceploskan bola (12′). Pemain pertama Maroko di final yang pernah semusim dan merasakan scudetto (2020-21) bersama Inter itu menolak merayakan gol, tapi kerusakan di pertahanan Inter dimulai.

Doue Termuda.
Dimarco kembali terlibat dalam gol kedua PSG. Diawali aksi Nuno Mendes mencuri bola tepat di atas garis belakang, Les Parisiens meluncurkan serangan balik. Ousmane Dembele mengirim bola dari sayap kiri ke kanan. Tembakan Doue mengenai kaki Dimarco sehingga berbelok arah dan mengelabui Yann Sommer (20′). Doue pun menjadi pemain termuda yang membuat assist dan gol di final di usia 19 tahun dan 362 hari.
Sommer Tersibuk.
Inter bukan tanpa peluang. I Nerazzurri mendapat kesempatan dari dua tendangan pojok termasuk sundulan Marcus Thuram yang sedikit melebar. Sommer tetap menjadi kiper tersibuk dengan hanya tiga penyelamatan walau kebanyakan peluang PSG luput tipis dari sasaran. Kiper asal Swiss itu beruntung tidak memungut bola lagi di akhir babak pertama. Alumni Serie A, Khvicha Kvaratskhelia, menghasilkan dua peluang yang masih melebar dan melayang tipis.
Lanjut Menekan.
Kvaratskhelia, yang pindah dari Napoli ke PSG pada awal tahun, dua kali lagi mengancam di awal paruh kadua, tapi eksekusi keras kaki kirinyanya masih melayang. Tembakan Dembele pun masih melebar. Dengan sinyal seperti itu, Inter gagal keluar dari tekanan.
Gelontor 3 Lagi.
Pada akhirnya, PSG memperlihatkan kepantasan juara kali ini. Les Parisiens menambah dua gol dari dua kali operan daerah brilian. Vitinha menjadi penyedia yang pertama untuk disantap Doue (63′).
Kvaratskhelia menjadi penjebol keempat (73′) dengan tembakan ke tiang dekat dari assist Dembele. Seperti masih kurang, PSG membuat gol tiang dekat lagi melalui pemain pengganti, Senny Mayulu (86′), dari sodoran Bradley Barcola di dalam kotak.

Sebab Superior.
Munchen kembali menghasilkan juara baru seperti tiga gelaran final sebelumnya. Les-Rouge-et-Bleu menjadi juara ke-24 kompetisi akbar ini lewat performa mantap terutama dalam penciptaan dan pemanfaatan peluang melalui penguasaan bola sebesar 59%. PSG besutan Luis Enrique melepaskan 20 percobaan dengan delapan buah yang mengarah ke gawang.
Marquinhos cs. menghasilkan harapan gol sebesar 3,23, sementara Inter hanya 0,49. Nerazzurri cuma mampu membuat lima tembakan, dengan dua kali mengarah ke gawang Gianluigi Donnarumma.
Desire Terbaik.
Dua gol dan satu assist membuat Doue diganjar penghargaan pemain terbaik di laga puncak ini. “Saya tak bisa berkata-kata. Ini luar biasa buat saya, sungguh luar biasa,” ucapnya di situs UEFA.

Paris Layak.
Final ini menjadi yang pertama dengan margin lima gol. Inter menerima hasil telak yang merupakan kekalahan kedua dalam tiga tahun ini.
“Paris layak menang dan meraih trofi. Kami kecewa, tapi jalan menuju titik ini hebat. Sebagai pelatih, saya bangga terhadap pemain-pemain saya karena telah memberikan segalanya. Laga ini tentu tidak cukup baik buat kami,” kata Simone Inzaghi, pelatih Inter.
“Selamat untuk Paris. Mereka lebih baik di semua segi. Mereka lebih berenergi. Inilah sepak bola, kadang kala kalah. Saya senang dan bangga berada dalam tim ini dan pada permainan kami sampai titik ini,” tutur Nicolo Barella.
View this post on Instagram


