Kekalahan dari Brentford benar-benar makin merusak reputasi Chelsea. Sebaliknya, Brentford menjadikan kemenangan ini ibarat bentuk legitimasi mereka selaku tim yang lebih dominan atas rival sekota.
Menjamu Brentford di Stamford Bridge, Kamis (27/4), kekikukan Chelsea terus berlanjut dan tampak begitu kentara. Mereka takluk 0-2 dari sang tamu lewat gol bunuh diri Cesar Azpilicueta dan gol serangan balik Bryan Mbeumo.
West London is red. Demikianlah bunyi salah satu cuitan di akun resmi Twitter Brentford usai laga. Brentford resmi menjadi penguasa London Barat, setidaknya untuk musim ini lantaran di putaran pertama lalu, mereka juga tak terkalahkan dar sang lawan usai kedua tim bermain imbang 0-0.
Setidaknya, ada tiga postingan terkini akun resmi Brendford di Twitter yang memperlihatkan bagaimana selebrasi kemenangan para pemainnya dengan latar tulisan The Pride of London di salah satu tribun Stamford Bridge. Sebagai gambaran, jarak dari Stamford Bridge ke Gtech Community Stadium yang merupakan kandang Brentford, hanya sekitar 10 menit berkendara.
Kemenangan ini juga mengulang hasil serupa yang diraih Brentford dalam kunjungan mereka ke Stamford Bridge musim lalu. Kala itu, gol pembuka laga bek Chelsea, Antonio Rudiger, mampu dibalas dengan gol-gol Vitaly Janelt (2 gol), Christian Eriksen, dan Yoane Wissa.
Di sisi lain, kekalahan ini tak hanya membuat Chelsea begitu kerdil di hadapan rival sekota, tapi juga membuat mereka makin terpuruk. Pasalnya, kekalahan ini merupakan kekalahan beruntun kelima skuat London Biru di semua ajang.
Menurut Squawka, itu merupakan catatan terburuk Chelsea sejak terakhir kali berada dalam periode serupa (menelan lima kekalahan beruntun) pada 1993 atau sekitar 20 tahun lalu.
Nama Frank Lampard ikut terseret. Ia berandil besar di lima kekalahan beruntun tersebut lantaran seluruh hasil buruk itu lahir sejak ia kembali ditunjuk sebagai pelatih.
Lampard boleh saja dianggap sebagai gelandang legendaris Chelsea dan juga tim nasional Inggris. Namun, untuk urusan kepelatihan, kualitasnya masih sangat meragukan.
Data statistik menunjukkan bahwa dari 23 laga sebagai pelatih di ajang Premier League (bersama Chelsea dan Everton), timnya takluk 14 kali, imbang enam kali, dan hanya mampu menang tiga kali. Jika dikalkulasi, rasio persentase kemenangan tim yang ditangani Lampard hanyalah 13%.
Catatan buruk itu cukup tergambar dari strateginya tadi malam. Dalam kondisi tak bisa menurunkan Kai Havertz selaku bomber utama yang tengah cedera, Lampard hanya memainkan Raheem Sterling sebagai satu-satunya tukang gedor Chelsea di awal laga.
Stok amunisi lini serang lainnya seperti Pierre-Emerick Aubameyang, Joao Felix, Mykhailo Mudryk, dan Chukwunonso Madueke, justru baru dimainkan di babak kedua dan dalam posisi tertinggal. Dua andalan lainnya seperti Hakim Ziyech dan Christian Pulisic bahkan hanya duduk manis di bangku cadangan hingga akhir laga.
Hasilnya, serangan tuan rumah yang tampak lebih agresif sejak pergantian pemain itu terkesan agak terlambat. Dalam posisi mengejar ketertinggalan, Chelsea malah kebobolan gol kedua Brentford yang lahir lewat skema serangan balik. Skor 0-2 untuk tim tamu bertahan hingga akhir laga.
Data lain dari Squawka menunjukkan bahwa kegagalan membobol gawang Brentford merupakan kegagalan beruntun ketujuh Chelsea dalam hal menjebol gawang lawan di kandang sendiri. Rapor merah itu merupakan yang terburuk sepanjang keikutsertaan mereka di ajang Premier League.
Alih-alih menjabarkan permasalahan krusial timnya, Lampard justru tetap berupaya tenang dalam sesi jumpa pers usai laga.
“Dengan formasi 4-3-3, kami lebih dinamis dan mengancam lawan di 15-20 menit babak kedua. Namun, tetap saja ada perasaan gol-gol kami tak akan pernah datang dan lawan justru mendapat sesuatu,” ujar Lampard dilansir BT Sports.
“Kami harus bekerja keras untuk mengatasi hal tersebut. Kami tentu menginginkan ada momen-momen ajaib. Namun, hal itu tak selalu hadir di sepak bola, jadi kami harus berjuang untuk mendapatkan momen tersebut,” lanjut Lampard.
Pernyataan sang pelatih tersebut justru memancing beragam kecaman dari para fan Chelsea yang sudah kadung kecewa atas hasil-hasil buruk belakangan ini, khususnya sejak Lampard kembali ke kursi pelatih. Sebagian besar meminta agar Lampard legowo untuk mengundurkan diri.
Beberapa jam sebelum laga Chelsea versus Brentford digelar, media-media Inggris menyebutkan bahwa Chelsea sudah melakukan pertemuan khusus di Spanyol dengan Mauricio Pochettino. Mantan pelatih Tottenham Hotspur dan Paris Saint-Germain itu digadang-gadang sebagai pelatih Chelsea musim depan. Dari hasil pertemuan tersebut dikabarkan bahwa kedua pihak sudah menemukan kata sepakat secara lisan.


