Atletico Madrid lolos ke babak 16 besar usai menyingkirkan tamunya, Inter Milan, lewat drama adu penalti, Kamis (14/3).
Skuat Diego Simeone mengawali laga dengan keharusan mengejar ketertinggalan agregat 0-1 dari leg pertama. Alih-alih mencetak gol, tuan rumah malah tertinggal lebih dulu berkat gol Federico Dimarco (menit 33’).
Beruntung, sekitar dua menit setelahnya (menit 35’), Antoine Griezmann berhasil menyamakan kedudukan lewat sebuah kemelut di depan gawang Inter. Skor 1-1 bertahan hingga turun minum.
Di babak kedua, laga makin sengit lantaran Atletico terus bermain terbuka, sedangkan Inter tak segan melancarkan serangan balik.
Hingga akhirnya Memphis Depay berhasil memecah kebuntuan tuan rumah. Ia masuk menggantikan Alvaro Morata di menit 79’. Sekitar delapan menit kemudian (87’), tembakan Depay dari dalam kotak penalti menghujam pojok kiri gawang Inter.
Skor 2-1 (agregat 2-2) dan laga berlanjut ke babak tambahan. Berhubung tak ada gol yang lahir di 2×15 menit, drama adu penalti tersaji. Atletico akhirnya memenangi babak tos-tosan tersebut dengan skor 3-2.
Sudah delapan musim berlalu sejak terakhir kali Atletico lolos di fase knockout Liga Champions 2015/16 meski sempat kalah lebih dulu dari lawannya di leg pertama. Kala itu, yang menjadi korban adalah Barcelona. Pada leg pertama di Camp Nou, Atletico takluk 0-1 sebelum akhirnya sukses membalas dengan kemenangan 2-0 di leg kedua.
Keberhasilan Atletico lolos ke perempat final juga turut mendongkrak torehan impresif pelatih Diego Simeone. Ini merupakan kali ketujuh Atletico diantarnya lolos ke babak delapan besar. Padahal, sebelum ditangani Simeone, Atletico baru lima kali lolos ke perempat final.
View this post on Instagram
Dilansir dari berbagi sumber, berikut serba-serbi menarik dari kemenangan adu penalti Atletico atas Inter.
1. Tradisi menang penalti
Memenangi babak adu penalti di Liga Champions memang menjadi salah satu kelebihan Atletico. Menurut Opta, skuat berjuluk Los Colchoneros tersebut menjadi tim pertama di sepanjang sejarah Liga Champions yang mampu memenangi tiga dari empat adu penalti.
Sebelum menyingkirkan Inter, Atletico juga pernah menang adu penalti versus Bayer Leverkusen di musim 2014/15 dan PSV Eindhoven di musim 2015/16.
2. Peran Besar Jan Oblak
Jan Oblak layak menjadi bintang kemenangan Atletico atas Inter. Ia sukses menggagalkan eksekusi Alexis Sanchez (penendang kedua) dan Davy Klaasen (penendang ketiga).
Yang tak kalah kerennya lagi, Oblak juga tampil sebagai bintang kala Atletico menang adu penalti versus Leverkusen dan PSV (poin nomor 1).
3. Kenapa harus Sanchez?
Sebagian fan Inter mungkin menyesali status Sanchez sebagai eksekutor kedua. Pasalnya, reputasi striker asal Chili selaku penendang penalti memang tak terlalu mentereng.
Dilansir dari Transfermarkt, Sanchez sudah 22 kali menjadi eksekutor penalti di sepanjang kariernya. Nah, kegagalannya tadi malam merupakan kegagalan ke-12 Sanchez dari titik putih.
Berarti, ia cuma sukses di 10 kesempatan. Jika dipersentase, tingkat keberhasilannya mengeksekusi penalti berarti kurang dari 50% (36%).
4. Tren penalti Lautaro Martinez juga lagi buruk
Selain Hakan Calhanoglu, salah satu eksekutor penalti terbaik di Inter adalah Lautaro Martinez. Itu pula mengapa Calhanoglu terpilih sebagai penendang pertama dan Martinez sebagai penendang kelima yang perannya sama-sama krusial.
Akan tetapi, berbeda dengan sang rekan yang sukses sebagai algojo pertama, Martinez justru gagal menunaikan tugas. Bola eksekusinya melayang di atas gawang Oblak.
Sesaat setelah menendang si kulit bundar, striker asal Argentina itu tampak “menyalahkan” permukaan lapangan yang kurang rata. Benar atau tidaknya, cuma Martinez yang tahu.
Dilansir ESPN, Martinez berarti sudah tiga kali gagal dalam empat kesempatan terakhir dari titik putih di sepanjang musim ini.
5. Pertama dan sukses untuk Riquelme
Kemenangan Atletico ini bakal terus dikenang oleh winger muda mereka, Rodrigo Riquelme. Pasalnya, ini merupakan kali pertama di sepanjang karier, ia dipercaya mengeksekusi penalti.
Riquelme menjadi eksekutor ketiga dan sukses mengecoh kiper Inter, Yann Sommer. Padahal, tekanan yang dihadapi Riquelme terbilang besar.
Apalagi kalau bukan gara-gara penendang Atletico sebelumnya, Saul Nigeuz (eksekutor kedua), yang gagal menjalankan tugas dengan baik. Bola sepakan Saul mudah ditebak Sommer.
Namun, Roquelme ternyata mampu mengatasi tekanan berat tersebut dan Atletico kembali berada di atas angin.


