Man. City berkesempatan meraih trofi yang bisa menjadi hiburan bagi musim mereka yang tidak semeyakinkan musim-musim sebelumnya. Pengalaman akan menjadi kelebihan The Cityzens atas Crystal Palace di final Piala FA pada Sabtu (17/5).
Pertemuan antara Crystal Palace dan Man. City tampak kontras dari perolehan gelar. City bergelimang trofi sehingga bisa dikatakan sebagai klub tersukses dalam sedekade terakhir. Palace belum pernah merasakan kenikmatan mengangkat trofi sepanjang sejarah mereka.
Palace menebar ancaman dari jejak perjalanan mereka. Skuad asuhan Oliver Glasner ini dapat mencetak tiga gol di tiga ronde sebelumnya, dan cuma kebobolan sebiji gol dari lima laga terakhir di Piala FA.
Laga puncak nanti akan menjadi yang ketiga buat The Eagles, julukan Palace. Klub London Selatan ini dikandaskan Man. United di dua final sebelumnya (1990 dan 2016).
Sebagai catatan, Palace tidak mudah dikalahkan di dua final itu. Final 1990 berlanjut dengan replay. Sembilan tahun lalu, laga puncak mesti melewati perpanjangan waktu.
Catatan selalu menantang di laga puncak ditambah geliat mengesankan musim ini, duel puncak di Wembley nanti akan tergelar sengit dengan permainan terbuka. Enam duel terakhir Si Elang dengan City selalu menghasilkan setidaknya empat gol.
Hanya, hasil akhir head-to-head dengan Cityzens tidak berakhir bagus buat Palace. Si Elang tidak pernah menang di tujuh benturan terakhir, empat berakhir dengan kemenangan City.
Soal pengalaman di partai puncak, City jelas lebih unggul. Laga nanti merupakan final Piala FA ketiga beruntun bagi Manchester Biru. Hanya, setelah menang pada 2023, City kalah dalam derbi Manchester di Wembley tahun lalu.
Trofi musim ini akan menjadi pelipur bagi City menyusul penurunan performa. Selain itu, Cityzens akan berniat meraih gelar kedelapan ajang ini yang akan menempatkan mereka di peraih ketiga terbanyak.
Kendati menurun, City kerap memuncak pada saat yang tepat. Di Premier League, kans laskar Pep Guardiola untuk lolos ke Liga Champion masih tetap terbuka setelah tak terkalahkan di 10 laga, tujuh di antaranya berupa kemenangan.
Namun, hasil imbang City di Southampton, juru kunci liga, bukan persiapan yang menaikkan kepercayaan diri. Akan tetapi, Cityzens tetap dijagokan untuk meraih gelar kedelapan di kompetisi tertua ini dengan catatan selalu mencetak sekurangnya dua gol di setiap laga menuju Wembley musim ini.
Menuju kampiun Piala FA, City perlu mewaspadai Eberechi Eze. Pemain menyerang Palace itu telah mencetak lima gol di empat laga terakhirnya. Pemain timnas Inggris itu mencetak gol pembuka pula dalam pertemuan terakhir dengan City walau Palace akhirnya kalah 2-5.
Agenda penting buat City adalah perpisahan dengan Kevin De Bruyne. KDB sendiri merupakan momok buat Palace. Di samping memimpin City saat menang di duel terakhir, gelandang serang Belgia itu paling ganas kalau bertemu dengan Palace dengan bukti 16 kontribusi gol (6 gol, 10 assist). Trofi ke-15 akan menjadi kado perpisahan yang layak buat sang maestro.
View this post on Instagram


