Beberapa tim besar sudah mulai tersandung meski beberapa lainnya tetap tampil memukau. Jalan terjal menuju Piala Eropa 2024 menyajikan beragam kejutan di dua laga awal.
Hampir sebagian besar kontestan dari 10 grup di babak kualifikasi Piala Eropa 2024 sudah melakoni dua laga awal dalam sepekan terakhir. Hasilnya, ada beberapa tim unggulan yang melaju dengan mulus dan ada pula sebagian dari mereka yang justru gagal menampilkan permainan terbaik.
Portugal tampil terdepan di antara tim-tim unggulan, sedangkan Belanda justru terbelakang jika mengacu pada hasil akhir dan raihan poin. Berikut ini merupakan hasil rangkuman versi Jebreeetmedia:
Yang terbaik: Portugal dan Swiss
Jika mengacu pada hitung-hitungan raihan poin dan agregat gol, Portugal menjadi tim terbaik sejauh ini. Cristiano Ronaldo dkk. memborong kemenangan di dua laga awal Grup J. Skor akhirnya juga tak tanggung-tanggung. Mereka sukses membantai Luxembourg (4-0) dan Liechtenstein (6-0).
Secara kualitas, Portugal memang masih berada satu kelas dibanding kedua lawan mereka tersebut. Namun, keberhasilan meraih pesta gol tetap layak dikedepankan lantaran ada juga tim-tim unggulan, seperti Spanyol dan Belanda, yang justru kesulitan saat bersua tim-tim non unggulan.
Pesta 10 gol yang diraih Portugal juga mengantar Cristiano Ronaldo menempati peringkat kedua di daftar pencetak gol terbanyak sementara. Beberapa rekannya yang turut menemani adalah Bernardo Silva (2 gol), serta Joao Cancelo, Joao Felix, Rafael Leao, dan Otavio yang masing-masing sudah membuat satu gol.
Selain Portugal, Swiss juga mencuri perhatian berkat dua kemenangan beruntun dan agregat gol impresif. Granit Xhaka dkk. belum kebobolan saat membantai Belarus (5-0) dan Israel (3-0) guna memuncaki klasemen sementara Grup I.
Hasil enam poin dan agregat gol 8-0 milik Swiss tersebut mengantarkan mereka sebagai tim terbaik kedua setelah Portugal di fase awal kualifikasi.
Yang on-the-track: Prancis dan Inggris
Prancis dan Inggris sebenarnya bisa saja menyamai pencapaian Portugal dan Swiss yang tampil meyakinkan di dua laga awal.
Akan tetapi, kualitas lawan-lawan yang lebih kuat, membuat Prancis dan Inggris sudah harus bersyukur kalaupun pada akhirnya mereka tetap bisa meraih enam poin meski tanpa agregat gol sebaik Portugal atau Swiss.
Prancis sempat tampil meyakinkan di laga pembuka Grup B berkat kemenangan 4-0 atas tim kuat lainnya, Belanda. Akan tetapi, Kylian Mbappe dkk. agak sedikit mengendorkan gas mereka kala menang tipis 1-0 dari tuan rumah, Irlandia, di laga kedua.
Di sisi lain, Inggris – meski agregat golnya tak sebaik Portugal, Swiss, dan Prancis – juga sudah berada di jalur yang benar berkat dua kemenangan dari lawan-lawan tangguh sekaligus pesaing terkuat mereka di fase grup, yakni Italia (2-1) dan Ukraina (2-0).
Kemenangan itu setidaknya membuat tugas The Three Lions akan lebih mudah ke dépannya saat bersua dua kontestan lain di Grup C yang secara kualitas masih di bawah mereka, yakni Makedonia Utara dan Malta.
Yang mengejutkan: Skotlandia
Skotlandia tergabung di Grup A bersama tim kuat Spanyol. Ada pula Norwegia yang diprediksi bakal unjuk gigi. Dua kontentan lainnya adalah tim lemah, Georgia dan Siprus.
Spanyol sempat memetik kemenangan 3-0 kala bersua Norwegia di laga pembuka grup. Namun, hasil meyakinkan itu berbalik 180 derajat ketika skuat Matador justru takluk 0-2 dari Skotlandia di laga kedua.
Dua gol gelandang Manchester United, Scott McTominay, tak hanya sukses membuat Skotlandia bercokol di puncak klasemen, tapi juga membuat Spanyol meradang.
Yang paling kentara di publik adalah soal komentar pemain Spanyol yang kebetulan bermain di klub rival Mctominay, Rodri. Gelandang Manchester City itu menyebut pemain-pemain Skotlandia tampil negatif dengan kerap berpura-pura cedera dan memperlambat waktu.
Namun, apapun pendapat Rodri, Skotlandia kini bertahta di puncak klasemen karena sebelum menang dari Spanyol, mereka juga menang 3-0 dari Siprus di laga pembuka.
Hasil sempurna di dua laga awal itu tak lepas dari peran McTominay yang sudah mengoleksi empat gol dan Andy Robertson yang memimpin daftar pengoleksi assist lewat tiga assist.
Mengacu pada koleksi poin dan agregat gol (6 poin, agregat +5 gol), Skotlandia juga masih sejajar dengan Prancis dan masih lebih bagus dari Inggris (6 poin, +3). (*Lihat boks)
Sebenarnya, ada juga tim-tim lain sudah mengukir dua kemenangan dan agregat bagus seperti Serbia, Slovenia, dan Rumania. Namun, dua kemenangan yang diraih ketiga tim tersebut hanya berasal dari lawan-lawan yang secara kualitas memang masih di bawah mereka.
Yang (agak) mengecewakan: Belanda, Spanyol, Italia
Ketiga tim ini sama-sama meraih satu kemenangan dan satu kekalahan dari dua laga awal. Namun, kasus yang menimpa Belanda dan Italia lebih mirip.
Keduanya takluk dari sesama tim unggulan di laga pembuka grup. Belanda dilumat Prancis 0-4, sedangkan Italia ditekuk 1-2 dari Inggris.
Kesempatan untuk bangkit juga tak dimanfaatkan dengan maksimal oleh kedua tim kala bersua tim-tim yang jauh lebih lemah di pertandingan kedua.
Italia hanya mampu menang 2-0 dari Malta, sedangkan Belanda – meski mencatatkan jumlah tembakan terbanyak sepanjang masa dengan 51 percobaan – hanya mampu menang 3-0 dari Gibraltar.
Kondisi yang agak sedikit berbeda dialami Spanyol. Alvaro Morata dkk. lebih dulu tampil meyakinkan kala menggebuk Norwegia di laga pembuka. Namun, penampilan meyakinkan itu bak sirna kala mereka secara mengejutkan takluk 0-2 dari Skotlandia di laga kedua
====
BOKS DATA
7 Tim Yang Memborong Kemenangan Di 2 Laga Awal Kualifikasi Piala Eropa 2024
- Portugal: 6 poin, +10 agregat gol
- Swiss: 6 poin, +8 agregat gol
- Prancis: 6 poin, +5 agregat gol
- Skotlandia: 6 poin, +5 agregat gol
- Austria: 6 poin, +4 agregat gol
- Serbia: 6 poin, +4 agregat gol
- Slovenia: 6 poin, +3 agregat gol
===
Daftar Pencetak Gol Sementara
5 gol: Rasmus Hojlund (Denmark)
4 gol: Cristiano Ronaldo (Portugal), Scott McTominay (Skotlandia)
3 gol: Romelu Lukaku (Belgia), Aron Gunnarsson (Islandia), Dusan Vlahovic (Serbia), Renato Steffen (Swiss)
===
Daftar Pengoleksi Assist
3: Andy Robertson (Skotlandia), Jón Dagur Thorsteinsson (Islandia)
2: Christoph Baumgartner (Austria), Denzel Dumfries (Belanda), Remo Freuler (Swiss), Dodi Lukebakio (Belgia), Răzvan Marin (Rumania), Mario Pašalić (Kroasia), Teemu Pukki (Finlandia), Milot Rashica (Kosovo), Sandro Tonali (Italia), Yan Vorogovskiy (Kazakhstan)


